Altruisme di Tengah Bencana

SHARE:  

Humas Unimal
Teuku Kemal Fasya, M.Hum, Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Unimal

UNIMALNEWS Teuku Kemal Fasya, kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh.

Para fan Atalanta mewakili semangat welas asih yang baik. Mereka menempatkan nilai kemanusiaan pada posisi tinggi untuk menyentuh mereka yang menjadi korban dan derita.

Para fan yang rata-rata kelas pekerja menyumbangkan semua uang tiket refund mereka, setelah pertandingan Liga Champion babak 16 besar antara Valencia versus Atalanta diputuskan tanpa penonton. Uang refund tiket itu berjumlah 40 ribu Euro atau Rp 640 juta disumbang ke Rumah Sakit Giovanni XXIII di Bergamo, Italia, yang menangani pasien Corona atau Covid-19.

Empati pada derita

Sikap kesetiakawanan itu tidak hanya ada jauh di sana, di Italia, negara paling hancur akibat Covid-19. Di Indonesia sikap itu juga mulai bermunculan, terutama yang oleh selebritas dan artis yang kerap digambarkan hidup glamor dan materialistis.

Artis kontroversial, Nikita Mirzani, menyumbangkan uang Rp. 100 juga pada hari ulang tahunnya untuk penanganan virus Covid-19.  Selegram, Rachel Vennya, melakukan penggalangan dana untuk rumah sakit yang kekurangan alat perlindungan diri (APD). Ia berhasil mengumpulkan Rp. 1 miliar kurang dari 24 jam. Popularitas mereka di dunia industri hiburan dan media sering mengarah pada hal-hal yang bernilai jual, tapi sesungguhnya mereka solider untuk ikut berbuat di tengah pandemi global ini.

Terlepas dari kontroversialnya virus Covid-19 - ada yang mempersangkakan sebagai senjata biologis akibat rekayasa genetika sehingga menjadi virus paling menular - ada hal-hal yang patut dilakukan oleh kita sebagai manusia berbudi untuk membantu sesama. Wabah Covid-19 ini bukan saja menyebarnya sangat cepat, tapi juga penanganannya di luar perkiraan semua pihak termasuk negara. Jika disebut hampir semua negara gagap menanganinya, tentu tak heran. Tak perlu nyinyir jika langkah-langkah yang dipilih pemerintah tidak sempurna. Setiap kebijakan memiliki resiko, dan tentu pemerintah telah menghitung setiap pilihan kebijakan yang diambil.

Pilihan kita tentu lebih baik berbuat dibandingkan mengutuk. Diperlukan pertaruhan sebagai manusia untuk memikirkan dan membela orang lain. Itulah yang disebut altruisme. Pembelaan dan solidaritas itu tidak berangkat akibat perintah undang-undang, paksaan militer, atau dogma agama, melainkan tumbuh dari kesukarelaan dan kilau kebaikan dari ringan hati.

Sikap altruisme ini telah lama hidup dalam pemikiran filsafat humanisme. Gagasan tentang kebaikan dan kebenaran dalam konsep humanisme digaungkan kembali oleh filsafat Perancis abad 18. Auguste Comte, menyebut konsep autrui – yang berangkat dari kata Latin : alter berarti “orang lain”, sebagai panggilan moral untuk meninggalkan kepentingan diri sendiri demi memenuhi kepentingan orang lain.

Filsafat ini sekaligus menegah gagasan pragmatisme yang muncul pada abad 20, sebagian terapropriasi pada konsep kebahagiaan masyarakat modern yang hedonistik, individualistik, dan egoistik. Konsep altruisme melawan pandangan bahwa kebenaran itu adalah milik diri sendiri (the self). Satre menyebutkan iman yang baik (bonne foi) ialah yang melihat orang lain (the others) secara otentik untuk melengkapinya. Bukan iman yang meneriakkan neraka bagi orang lain (hell is other people).

Solidaritas semesta

Dalam situasi seperti saat ini tentu diperlukan solidaritas kemanusiaan dari siapapun untuk mereka yang menderita akibat wabah Covid-19. Yang menderita pada situasi saat ini bukan saja yang terdampak secara medis, virologis, dan sosial, tapi juga secara politik dan ekonomi.

Pelbagai kebijakan memang telah diambil untuk mencegah virus ini merebak, di antaranya penjarakan sosial (social distancing) dan bekerja dari rumah (work from home). Namun, tidak semua dimensi kerja bisa dijarakkan secara sosial dan tidak semua orang bisa bekerja di rumah. Bagi eksekutif, karyawan kantor, desainer, pekerja media dan industri penyiaran, dll, ruang kerja tidak melulu kantor, dan mereka bisa bekerja dari mana saja. Namun bagi pekerja sektor riil, manufaktur, usaha kecil dan menengah, sopir, pedagang, pelayan publik, dll memerlukan ruang publik dan sosial itu. Sebagian dari mereka tidak bisa hidup lebih lama lagi jika tidak bekerja.

Negara tidak bisa dituntut untuk memenuhi hak ekonomi semua masyarakat, apalagi yang tidak bekerja sebagai aparatur negara. Di sinilah dituntut solidaritas sosial kita untuk membantu siapa saja, dari yang dekat dengan lingkungan hingga yang jauh, bergerak secara spontan untuk membantu. Harus ada energi memberi, mengabdi, menolong, dan bekerja untuk orang lain. Bisa dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Bisa dengan membantu menyebarkan kabar baik dan membuat masyarakat menjadi tenang. Bisa menjadi relawan dan pekerja sosial. Bisa juga sebagai penghubung yang mengoneksikan aneka bantuan dan fasilitas untuk yang memerlukan.

Altruisme sebenarnya dimiliki oleh bangsa ini. Itu terlihat ketika terjadi bencana hebat seperti tsunami Aceh belasan tahun lalu. Ada gerakan solidaritas semesta yang bergerak membantu. Tak ada ego identitas sosial, agama, etnis, dan politik yang menderu-deru sehingga membuat bantuan tak melaju. Semua orang berpegangan tangan dan mencurahkan energi yang dimilikinya untuk membebaskan orang lain dari rasa sakit dan putus asa.

Richard Rorty, filsuf posmodernisme Amerika Serikat, menyebutkan panggilan moral untuk solidaritas sebenarnya tidak berangkat dari dasar filosofis, religius, atau ideologis tertentu, tapi dari panggilan humanisme dari dalam diri manusia, yaitu bersedia tidak kejam. Dengan membantu orang lain, kita menolak bersikap jahanam, alih-alih hanya memupuk kenikmatan bagi diri sendiri dan keluarga. Seperti yang dilakukan kelompok kelas menengah perkotaan yang menimbun stok makanan di rumahnya, sambil seolah-olah berempati kepada korban Covid-19 melalui gawainya yang mahal dengan status di media sosial.

 

Tulisan ini telah dipublikasi pertama sekali di Kompas, 2 April 2020.


Kirim Komentar