Sejarah Genealogis Pesantren Pertama

SHARE:  

Humas Unimal
Foto : Ist

UNIMALNEWS - Kajian kepesantrenan selalu dihubungkan dengan perkembangan Islam di tanah Jawa pada abad 15–16. Namun, sedikit kajian yang melihat sejarah pesantren ini secara genealogis yang terhubung dengan Aceh sejak abad kesembilan.

Buku Zawiyah Cot Kala ini membahas tentang sisi yang “kerap dilupakan” itu, yaitu sejarah pendidikan Islam yang sebenarnya telah ada sejak era Rasulullah melalui halaqah atau perkumpulan di pojok Masjid Nabawi Madinah.

Dia dengan cepat berdialektika di Nusantara. Tranformasi pengetahuan dengan mengintegrasikan “ilmu-ilmu Syariah” dan “ilmu-ilmu Haqiqah.” Ini menjadi model sufistik di Timur Tengah yang beradaptasi dengan pola didaktika skolastika ala Melayu-Aceh. Konsep zawiyah akhirnya berkembang tidak sesederhana model ta’lim di pojokan masjid.

Ia menjadi institusi pendidikan Islam otonom, seperti ditemui di Yerussalem, Mesir, dan Irak sejak era Khulafaurrasyidin (hlm 9). Kata zawiyah sendiri dalam bahasa Arab berarti pojokan masjid, tempat bimbingan wirid dan zikir demi kepuasan spiritual. Pola pendidikan Islam pertama itulah yang kemudian mengilhami kehadiran zawiyah yang diapropriasi ke dalam bahasa Aceh menjadi “dayah” atau pesantren dalam bahasa Indonesia derivat bahasa Jawa. Berdiri di wilayah “Kerajaan Peureulak” pada abad kesembilan dengan tokoh utama Sultan Abbas Syah dan Teungku Muhammad Amin (hlm 159), Zawiyah Cot Kala menjadi model yang dianggap menginspirasi pendidikan awal Islam. Kampung yang dipilih untuk mendirikan dayah adalah Cot Kala.

Nama Zawiyah Cot Kala ini pula yang kemudian digunakan sebagai nama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri di Kota Langsa, tak jauh dari situs pesantren tersebut.

Namun, keberadaan pesantren sendiri tidak memiliki sejarah perkembangan yang jelas. Pendidikan Islam di wilayah Kerajaan Peureulak meredup sejalan dengan kebangkitan kerajaan Islam “Samudera Pasai” pada akhir abad 13. Kajian arkelologis dan historis lebih mantap menunjukkan keberadaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.

Bukti-bukti sejarah kurang mendukung klaim Peureulak sebagai sebuah kerajaan. Ia hanya dianggap sebagai kantong permukiman Islam (enclave). Dia hidup karena memiliki pelabuhan yang ramai disinggahi pedagang dari Arab, Persia, dan Tiongkok sejak awalawal abad Kristus.

Namun, kehadiran pesantren pertama Zawiyah Cot Kala itu patut jadi pertimbangan dalam menilai awal mula sejarah pendidikan Islam Nusantara.

Sejarah juga mencatat bahwa jejaring Islam di tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari pusat pendidikan Islam yang telah lebih dulu hidup di Aceh. Makanya, karakter Islam Nusantara tidak bercorak Timur Tengah.

Buktinya, empat dari sembilan Walisongo berasal dari keturunan Aceh. Itu pula alasan wajah Islam Nusantara sangat kental unsur akulturasi dan toleransinya karena disemai di tanah yang subur oleh kultur plural dan multikultural.

Diresensi Teuku Kemal Fasya, Kepala UPT Kehumasan Universitas Malikusaleh, Aceh

Sumber: koran-jakarta.com


Kirim Komentar