Iqra Ramadhani: Ingin Sejahtera Bersama Seranting Coffee

SHARE:  

Humas Unimal
Iqra Ramadhani. Foto: Bustami Ibrahim

Iqra Ramadhani (22) salah seorang mahasiswa semester akhir di Program Studi Administrasi Publik (PSAP) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh mengembang bakatnya melalui bisnis kopi robusta dan arabika gayo.

Berbagai jenis kopi dipasarkan di sejumlah market dan warung kopi di kawasan kota Lhokseumawe. Itu dilakukan Iqra Ramadhani  atau yang biasa disapa Dani sejak dia bekerja di salah satu perusahaan kopi di Bener Meriah pada bulan Oktober lalu sebagai sales pemasaran kopi di wilayah Kota Lhokseumawe. Dari situlah Dani belajar untuk bangkit jadi pengusaha sehingga dia berhasil membuat produk sendiri yang diberi nama dengan “Seranting Coffee”.

Sebelumnya, sambil kuliah Dani ingin mandiri dan bisa menjadi pengusaha kopi, apalagi pemuda yang berasal dari Desa Kute Tanyung Kecamatan Bukit, Bener Meriah  itu memiliki setengah hektar kebun kopi milik orang tuanya.

Dari hasil panen kopi di kebun orang tuanya Dani memulai untuk mengolahnya yang turut dibantu oleh perusahaan tempat dia bekerja dulu yaitu Kenred Coffee.

“Saya dulu bekerja sebagai sales pemasaran di perusahaan Kenred Coffee, namun karena saya ingin menjadi pengusaha kopi, maka saya memberanikan diri untuk meminta kepda bos agar diajarkan cara pengolahan kopi,” kata mahasiswa angkatan 2016 itu kepada Unimalnews, Selasa (07/01).

Keberanian Dani membuka label sendiri untuk usaha kopi itu didukung oleh perusahaan tempat dia bekerja dulu, bahkan untuk izin produksinya juga dibantu oleh perusahaan tersebut.

Dani yang merupakan anak pertama dari empat bersaudara itu memiliki kemauan tinggi menjadi pengusaha kopi sukses. Pada awalnya, Dani mendirikan Yolandfee sebagai merek produksi kopinya, namun karena dianggap kurang dikenal oleh para penikmat kopi, maka dia menggantikan namanya menjadi Seranting Coffee yang bermakna setangkai, atau secangkir kopi.

“Nama Seranting Coffee itu mulanya muncul dari hasil bimbingan dengan Ibu Harinawati, dosen Ilmu Komunikasi. Beliau juga memberikan semangat untuk saya dalam menjalankan usaha kopi ini,” ungkapnya.

Saat ini, Dani memproduksi kopi paket berat 100 gram per bungkus dengan empat jenis kopi seperti spesial honey yang dijual Rp25.000, Arabika eksklusif Rp23.000 per bungkus, specialty blend Rp20.000 dan kopi tradisional gayo Rp15.000 per bungkus.

Usaha yang dimulai sejak bulan Oktober 2019 lalu dengan modal Rp 500 ribu telah membawa keuntungan yang memuaskan baginya. Itu juga tidak terlepas dari dukungan orang tuanya. Sejak saat itu, kebun kopi milik orangtuanya seluas setengah hektar tersebut tak lagi menjual ke pengepul.

“Saya bilang ke orangtua, kita jual kopi sendiri saja. Saya yang jual, ayah dan ibu yang memilih jenis kopi yang akan dijual. Jadi, ini langkah saya memajukan bisnis kopi orangtua saya yang seumur hidupnya menjadi petani,” imbuh Dani.

Salah satu cita-cita Dani menjadi pengusaha bukan sebatas bisnis saja melainkan ingin mensejahterakan petani kopi. “Dengan merek dagang sendiri saya akan berusaha dan bangkit untuk berkembang,” harap Dani.[Bustami Ibrahim]


Berita Lainnya

Kirim Komentar