
UNIMALNEWS | Bukit Indah – Tujuh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh mengikuti program Jalur Kerja Sama Sarjana-Magister (JKSM) yang merupakan hasil kerja sama Unimal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).
JKSM merupakan jalur khusus yang memungkinkan mahasiswa program sarjana (S1) dari perguruan tinggi mitra memperoleh gelar sarjana dari perguruan tinggi asal sekaligus melanjutkan pendidikan magister di ITB dalam waktu 10 semester atau lima tahun. Program tersebut dimulai sejak mahasiswa berada pada semester 7 dan 8 di jenjang sarjana.
Tujuh mahasiswa Fakultas Teknik yang mengikuti program tersebut adalah Muhammad Faqqy Mahdi Alrasyid dari Program Studi Teknik Sipil, Ahmad Syauqi Arvian dari Program Studi Arsitektur, Safira Khalisha, Naufal Gusliandi, dan Nur Akmal dari Program Studi Teknik Informatika, Muhammad Fauzi dari Program Studi Teknik Kimia, serta Rizki Wildani dari Program Studi Teknik Material.
Dekan Fakultas Teknik, Dr Muhammad Daud menyampaikan apresiasi dan selamat kepada para mahasiswa yang telah lulus seleksi program tersebut. "Mulai tahun ini, ITB menyediakan jalur khusus PISM bagi mahasiswa dari perguruan tinggi yang memiliki kerja sama dengan ITB, yaitu Jalur Kerja Sama Mitra (JKSM)," ujarnya.
Katanya, program ini hanya diperuntukkan bagi program studi yang ada di Fakultas Teknik di Unimal. "Sebelumnya kami telah melakukan audiensi ke beberapa fakultas ilmu teknik di ITB yaitu FTI, STEI, FTSL, FTTM, dan SAPPK untuk mewujudkan program JKSM ini. Banyak hal yang dapat diambil manfaat dari program ini. Di samping dapat menambah ilmu pengetahuan, mahasiswa juga dapat memperoleh komparasi sistem pembelajaran," jelasnya.
Sementara itu, Plt Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teknik, Dr Zulnazri, menyampaikan bahwa program integrasi sarjana-magister melalui jalur kerja sama tersebut memberikan peluang bagi mahasiswa untuk mempercepat pendidikan ke jenjang magister.
“Ini merupakan peluang yang diberikan oleh ITB kepada beberapa kampus pilihan yang memiliki payung MoU dengan mereka. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini mahasiswa Unimal, khususnya mahasiswa teknik, harus mengambil kesempatan ini untuk dapat melanjutkan pendidikan di salah satu kampus teknik terbaik di Indonesia,” ungkapnya melalui rilis yang diterima Unimalnews, Kamis (24/9/2026).
Ia menyebutkan, sebanyak 11 mahasiswa Fakultas Teknik mengikuti seleksi jalur percepatan pendidikan sarjana ke magister. Dari jumlah tersebut, tujuh mahasiswa dinyatakan lulus seleksi dan memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan magister di ITB.
“Walaupun program ini merupakan kerja sama, syarat administrasi dan kompetensi sebagai calon peserta tetap harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku di ITB. Mereka yang lulus juga merupakan mahasiswa yang kompeten dan memenuhi standar yang sama dengan mahasiswa ITB,” sebutnya.
Salah satu mahasiswa yang lulus, Ahmad Syauqi Arvian dari Program Studi Arsitektur, diterima di Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB.
Ia mengatakan program tersebut bukan sekadar jalan menuju gelar magister, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pengalaman akademik di lingkungan yang berbeda.
“Saya mengikuti program ini karena melihatnya sebagai golden ticket untuk berkembang lebih cepat dan mendapatkan pengalaman akademik di lingkungan yang berbeda,” ujarnya.
Menurut Ahmad, kesempatan belajar di ITB juga memberikan ruang untuk melihat arsitektur dari perspektif yang lebih luas. Ia ingin mengeksplorasi lingkungan akademik SAPPK sekaligus memperkaya cara pandangnya terhadap arsitektur setelah beberapa tahun menempuh pendidikan di Unimal.
“Saya juga memanfaatkan opportunity ini untuk mengeksplorasi arsitektur di SAPPK, sekaligus memperdalam cara pandang saya terhadap arsitektur setelah beberapa tahun belajar di Unimal,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Faqqy Mahdi Alrasyid, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil yang lulus pada program Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), mengatakan keputusan melanjutkan studi melalui jalur tersebut bukan sekadar perpindahan jenjang pendidikan. Ia memiliki persoalan yang ingin dipelajari lebih mendalam melalui pendidikan magister.
“Saya ingin mendalami pengalaman lapangan yang ingin saya bawa ke ruang akademik. Ada persoalan masyarakat yang ingin saya jawab melalui ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Selama perkuliahan magister, mereka mengikuti perkuliahan secara daring melalui Zoom Metting. [fzl]