14 Tim Adu Rasa di Unimal

SHARE:  

Humas Unimal
Saat 14 Unit Kerja Meracik Kekayaan Pesisir dalam Semangat Kemerdekaan

ASAP tipis mulai mengepul dari deretan tungku. Suara pisau beradu dengan talenan bersahutan dengan gemericik minyak panas. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat menjelang siang, aroma udang, cumi, ikan kerapu, dan beragam bumbu perlahan memenuhi udara Kampus Reuleut, Kabupaten Aceh Utara.

Bukan dapur restoran profesional. Hari itu, Minggu (16/8/2026), halaman kampus Universitas Malikussaleh (Unimal) berubah menjadi arena pertarungan para juru masak dari berbagai unit kerja.

Mereka bukan chef profesional yang sehari-hari berkutat di dapur hotel atau restoran. Mereka adalah dosen, tenaga kependidikan, pegawai, hingga anggota Dharma Wanita yang untuk beberapa jam harus mengesampingkan rutinitas pekerjaan dan menunjukkan kemampuan mengolah bahan pangan dalam ajang “Battle of the Chefs”.

Lomba memasak tersebut digelar untuk memeriahkan Dies Natalis ke-57 Universitas Malikussaleh sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebanyak 14 unit kerja ambil bagian dalam kompetisi yang mengusung tema “Meracik Kekayaan Pesisir Laut”. Tema tersebut bukan sekadar slogan. Peserta benar-benar ditantang mengolah hasil laut sebagai bahan utama protein yang telah disiapkan panitia.

Udang, cumi, kerapu, hingga ikan rambe menjadi bagian dari tantangan yang harus disulap menjadi sajian bercita rasa, menarik secara visual, higienis, dan layak disajikan di meja makan.

Ke-14 peserta yang ambil bagian terdiri atas UPT Perpustakaan, BAKPKIK, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), LPPM, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, LP3M, Biro Umum dan Keuangan (BUK), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), serta Dharma Wanita.

Ada satu hal yang membuat kompetisi ini berbeda dari lomba memasak biasa. Peserta tidak datang dengan membawa bahan makanan dari rumah.

Seluruh bahan utama dan bahan pendukung disediakan panitia.

“Panitia menyiapkan seluruh bahan makanan yang harus diolah peserta, mulai dari bahan utama protein, sayuran, bahan pendukung, hingga bumbu. Peserta tidak diperbolehkan membawa bahan makanan apa pun,” kata Penanggung Jawab Lomba Masak, Rifki Elindawati.

Beberapa hari sebelum perlombaan, peserta telah mengikuti technical meeting. Dalam pertemuan tersebut, mereka mendapatkan informasi mengenai bahan utama yang diperoleh melalui mekanisme undian.

Namun, kejutan belum selesai. Bahan pendukung lainnya baru diketahui ketika perlombaan berlangsung.

Konsep tersebut membuat peserta tidak bisa sepenuhnya mengandalkan resep yang telah disiapkan dari rumah. Mereka harus mampu membaca situasi, mengembangkan kreativitas, sekaligus mengambil keputusan dengan cepat.

Peralatan memasak juga menjadi tanggung jawab masing-masing tim. Peserta diperbolehkan membawa kompor tambahan dan perlengkapan memasak yang diperlukan untuk mengolah bahan yang telah disediakan panitia.

Dalam kondisi waktu yang terbatas, kekompakan tim menjadi salah satu kunci. Ada yang bertugas membersihkan seafood, meracik bumbu, menyiapkan sayuran, mengatur api, hingga memikirkan bagaimana hidangan akan ditata sebelum dipresentasikan kepada dewan juri.

Kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh rasa makanan. Dewan juri menilai sejumlah aspek, meliputi rasa, kreativitas, higienitas, manajemen dan kekompakan tim, serta presentasi.

Komposisi juri berasal dari unsur eksternal dan internal. Salah satu juri eksternal adalah Ainun Nukmah S.Pd, guru Tata Boga SMK Negeri 2 Lhokseumawe.

Kehadiran juri yang memiliki kompetensi di bidang tata boga membuat peserta tidak bisa sekadar menyajikan makanan yang terlihat menarik. Cara mengolah bahan, kebersihan selama proses memasak, kemampuan bekerja sebagai tim, hingga cara menyajikan hidangan menjadi bagian yang menentukan.

Di tengah panasnya matahari, setiap tim tampak sibuk dengan strategi masing-masing. Ada yang bergerak cepat, ada pula yang lebih tenang dan terukur. Sesekali terdengar suara anggota tim memberi arahan kepada rekannya agar takaran bumbu, tingkat kematangan, dan tampilan makanan sesuai dengan konsep yang mereka bangun.

Setelah seluruh hidangan selesai dimasak dan dipresentasikan, dewan juri menetapkan tiga tim terbaik.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati LP3M, sementara Fakultas Kedokteran (FK) keluar sebagai juara ketiga.

Kemeriahan di Kampus Reuleut hari itu tidak hanya berasal dari arena lomba memasak. Di sekitar lokasi, panitia juga menghadirkan berbagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta stan pendukung yang ikut meramaikan kegiatan.

Pengunjung dapat menemukan beragam sajian dan produk, mulai dari Pangsit Cili yang digagas mahasiswa Unimal, Fitbar, Entrasol, P2MW Unimal, Dimsum Q, Kopi Sanger, Go Kuah, Rame Rasa Sedap, hingga es krim.

Sejumlah lembaga dan mitra juga turut hadir, seperti Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank BSN, serta berbagai stan lainnya. Fakultas Pertanian Unimal juga ikut ambil bagian dalam menghadirkan produk dan sajian.

Tak ketinggalan, tersedia pula photo booth yang menjadi salah satu titik yang menarik perhatian pengunjung untuk mengabadikan suasana perayaan.

Kehadiran berbagai stan tersebut membuat kegiatan tidak berhenti sebagai perlombaan internal. Kampus menjadi ruang perjumpaan antara sivitas akademika, mahasiswa, pelaku UMKM, dan masyarakat yang datang menikmati suasana.[Bustami Ibrahim]


Berita Lainnya

Kirim Komentar