Herman Fithra dan Pesan yang Tertinggal Setelah Podium Terakhir

SHARE:  

Humas Unimal
Rektor Unimal Prof. Dr. Herman Fithra ASEAN Eng

DARI podium terakhir sebagai rektor, Herman Fithra menitipkan enam nilai kepada 1.247 wisudawan: jujur, inisiatif, tanggung jawab, berpikir luas, fokus, dan konsisten. Delapan tahun memimpin Universitas Malikussaleh berakhir dalam suasana haru, tetapi pesan yang ditinggalkannya justru tentang bagaimana menjalani kehidupan setelah kampus.

Ada yang berbeda pada Wisuda Angkatan ke-39 Universitas Malikussaleh (Unimal), Rabu, 30 September 2026. Di antara ratusan toga, senyum para lulusan, pelukan orang tua, dan kilatan kamera yang mengabadikan hari penting itu, terselip suasana haru yang tidak biasa. Bagi ratusan lulusan, wisuda menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik. Namun bagi Rektor Unimal Prof. Dr. Herman Fithra ASEAN Eng, prosesi pada Rabu, 30 September 2026, menjadi penanda berakhirnya satu perjalanan yang jauh lebih panjang.

Hari itu merupakan kali terakhir Herman berdiri di podium sebagai Rektor Unimal. Hampir delapan tahun ia berada di pucuk pimpinan universitas. Sebelumnya, selama lebih dari dua dekade, ia telah menjadi bagian dari kampus tersebut sejak pertama kali bergabung sebagai dosen pada 28 Juli 2002.

Maka ketika tiba pada bagian akhir sambutannya di Auditorium Tgk A Wahab Dahlawy, Kampus Reuleut, Aceh Utara, suasana terasa berbeda. Dengan mata yang berkaca-kaca, Herman menyampaikan sebuah kalimat yang seolah merangkum beratnya sebuah amanah:

“Amanah itu berat, maka hanya orang yang siap diuji layak memikulnya.”

Ia kemudian mengatakan kepada para wisudawan dan seluruh undangan bahwa hari itu adalah hari terakhirnya memimpin Unimal. “Dalam Wisuda Angkatan ke-39 adalah hari terakhir bagi saya, karena setelah ini saya tidak akan menjadi rektor lagi di Universitas Malikussaleh,” kata Herman.

Kalimat itu menjadi penanda sebuah perpisahan. Di hadapan para lulusan, orang tua, senat universitas, dosen, tenaga kependidikan, dan undangan, Herman tidak menutupi bahwa meninggalkan jabatan rektor bukan perkara mudah.

Ada ikatan panjang yang membuat Unimal lebih dari sekadar tempat bekerja. Ia telah berada di kampus itu sekitar 24 tahun. Dari seorang dosen, Herman kemudian dipercaya mengemban sejumlah tanggung jawab hingga akhirnya memimpin universitas.

Karena itu, perpisahan tersebut tidak hanya menyangkut berakhirnya sebuah jabatan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Atas nama pribadi, atas nama keluarga, baik istri dan anak, saya menghormat kepada Bapak dan Ibu sekalian, seluruh masyarakat, seluruh anak-anak kami, mahasiswa Universitas Malikussaleh,” ucapnya.

Herman juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama menjalankan amanah sebagai pimpinan universitas.

Keputusan untuk mengakhiri masa kepemimpinannya, kata dia, bukan semata-mata persoalan dirinya dan keluarga. Ia melihatnya sebagai bagian dari pertimbangan yang lebih luas.

“Mohon maaf kalau saya tidak bisa terus bersama-sama. Saya pikir ini yang terbaik untuk semua,” katanya.

Namun, di tengah suasana perpisahan itu, Herman tidak ingin perhatian berhenti pada dirinya. Ia mengembalikan makna wisuda kepada mereka yang hari itu menjadi tokoh utamanya: para lulusan.

Baginya, wisuda bukan sekadar seremoni akademik. Setelah toga dilepas dan ijazah diterima, para lulusan justru akan memasuki fase kehidupan yang sesungguhnya, dunia yang lebih luas, dengan tantangan, pilihan, dan tanggung jawab yang tidak selalu tersedia jawabannya di ruang kuliah.

Antusiasme para lulusan untuk hadir, menurut Herman, menjadi bukti bahwa wisuda tetap memiliki arti khusus. Bahkan, sejumlah lulusan yang telah bekerja di luar daerah tetap meminta dispensasi agar dapat kembali ke kampus.

“Artinya, ada antusiasme yang luar biasa. Mereka ingin hadir dan bersama-sama merasakan momen wisuda ini,” ucapnya.

Pada Wisuda Angkatan ke-39, Unimal mewisuda 1.247 lulusan. Sebanyak 653 lulusan mengikuti prosesi pada hari pertama, sedangkan 594 lainnya diwisuda pada hari kedua. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai diploma, sarjana, profesi, magister hingga doktor.

Bagi mereka, toga adalah simbol kelulusan. Tetapi bagi Herman, toga sekaligus menjadi simbol dimulainya perjalanan baru.

Delapan Tahun dan Jejak Perubahan

Sebelum benar-benar mengakhiri sambutannya, Herman menoleh sejenak ke belakang. Hampir delapan tahun kepemimpinannya meninggalkan sejumlah catatan perubahan di Unimal. Salah satunya adalah perubahan status universitas menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

Menurut Herman, perubahan tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi Unimal dalam mengelola sumber daya sekaligus meningkatkan kontribusi kepada masyarakat.

Perjalanan akademik juga menjadi bagian penting dari catatan tersebut.

Herman menyebut, ketika mulai memimpin Unimal pada 2018, akreditasi institusi masih berada pada kategori baik dan belum ada program studi yang memperoleh predikat unggul.

Dalam perjalanan berikutnya, Unimal berhasil meraih akreditasi unggul. Namun Herman tidak menyebut capaian tersebut sebagai keberhasilan pribadi.

“Ini adalah capaian yang kita raih bersama,” katanya.

Capaian itu terdapat kerja kolektif sivitas akademika, mahasiswa, tenaga kependidikan, pemangku kepentingan, serta dukungan orang tua mahasiswa. Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah program studi. Dari sekitar 37–38 program studi, kini Unimal memiliki lebih dari 60 program studi.

Jumlah mahasiswa pun meningkat. Jika pada 2018 jumlahnya sekitar 15.000 mahasiswa, kini disebut telah mencapai sekitar 25.000 mahasiswa. Pertumbuhan tersebut, bagi Herman, menunjukkan semakin luasnya akses pendidikan tinggi yang diberikan Unimal kepada generasi muda.

Pembangunan fisik menjadi catatan lain.

Selama periode kepemimpinannya, setidaknya 17 gedung baru beserta infrastrukturnya telah dibangun. Tetapi ada satu hal yang menurutnya lebih sulit daripada membangun yaitu merawat.

“Menjaga dan merawatnya jauh lebih sulit dibandingkan membangun yang baru,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta seluruh sivitas akademika menjaga fasilitas yang telah dibangun agar tidak berhenti menjadi simbol pembangunan, tetapi benar-benar terus memberi manfaat bagi generasi mahasiswa berikutnya.

JITUFK, Bekal Setelah Toga

Setelah berbicara tentang institusi, Herman kembali berbicara tentang manusia. Tentang para lulusan yang beberapa menit sebelumnya telah menerima pengakuan akademik, tetapi sesaat kemudian harus menghadapi dunia yang tidak memberikan nilai dalam bentuk IPK.

Di titik inilah ia memperkenalkan filosofi JITUFK.

Enam huruf itu merupakan rangkaian nilai yang menurut Herman perlu dibawa para lulusan dalam menjalani kehidupan: Jujur, Inisiatif, Tanggung jawab, berpikir luas atau universal, Fokus, dan Konsisten.

Pesan pertama adalah kejujuran.

Herman meminta para lulusan untuk selalu jujur, terutama kepada diri sendiri. Sebab, menurutnya, kepercayaan tidak mungkin dibangun tanpa kejujuran.

“Orang lain mungkin bisa kita tipu, tetapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri,” katanya.

Setelah kejujuran, ada inisiatif.

Para lulusan, katanya, jangan menjadi pribadi yang hanya menunggu perintah. Mereka harus berani memulai dan mengambil langkah.

“Jangan menunggu. Apa pun yang kita kerjakan harus punya inisiatif,” pesannya.

Kemudian tanggung jawab.

Setiap keputusan dan pekerjaan, kata Herman, harus diikuti keberanian untuk mempertanggungjawabkannya.

Nilai berikutnya adalah cara berpikir yang luas. Para lulusan diingatkan untuk tidak terjebak dalam sekat perbedaan agama, suku, ras maupun latar belakang sosial.

Dunia yang mereka masuki setelah kampus adalah ruang yang beragam. Karena itu, kemampuan memahami perbedaan menjadi bagian penting dari perjalanan kehidupan.

Lalu ada fokus.

Herman mengingatkan bahwa seseorang perlu memiliki tujuan dan konsentrasi dalam menjalani proses untuk mencapainya. Ia mengaitkan nilai tersebut dengan perjalanan hidupnya sendiri hingga akhirnya dipercaya menjadi rektor.

Dan terakhir, konsistensi.

Menurut Herman, keberhasilan tidak cukup hanya dengan memulai. Sesuatu yang baik harus dijalankan terus-menerus.

“Walaupun sedikit demi sedikit, lama-lama pasti sampai. Jangan berhenti,” katanya.

Enam nilai itulah yang kemudian ia titipkan kepada para lulusan sebagai bekal yang tidak tercantum di dalam transkrip akademik.

“Menjadi Pintar Itu Pilihan, Menjadi Orang Baik Itu Kewajiban”

Bagi Herman, gelar akademik bukan garis akhir.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa karakter dapat kehilangan makna. Karena itu, ia meminta para lulusan untuk terus belajar, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman hidup.

“Menjadi bintang itu pilihan. Kalau mau menjadi bintang, berarti harus belajar. Belajar secara formal seperti hari ini atau belajar dari pengalaman,” katanya.

Namun ada satu kalimat yang menjadi penekanan:

“Menjadi pintar itu pilihan, tetapi menjadi orang baik itu kewajiban.” Menurutnya, prestasi akademik harus berjalan bersama etika.

“Tanpa etika yang baik, bintang itu tidak ada artinya,” ujarnya.

Pesan itu terasa relevan dengan perjalanan Herman sendiri. Ia mengisahkan bahwa ketika masih menjadi mahasiswa, Indeks Prestasi (IP) yang diperolehnya adalah 2,79. Namun angka tersebut bukanlah akhir dari cerita.

Perjalanan panjang kemudian membawanya menjadi profesor dan dipercaya memimpin universitas. Herman menyebut satu kata yang menurutnya memiliki peran besar dalam perjalanan itu adalah kepercayaan.

“Kenapa? Karena banyak yang membantu saya. Karena saya dipercaya,” katanya.

Karena itu, ia mengajak para lulusan membangun kepercayaan melalui kejujuran, kerja keras, inisiatif, tanggung jawab dan konsistensi.

Kisah Herman di Unimal dimulai jauh sebelum ia berdiri sebagai rektor. Pada 28 Juli 2002, ia datang sebagai dosen. Dua puluh empat tahun kemudian, ia berdiri di hadapan ribuan orang dalam posisi yang berbeda: bukan untuk membuka babak baru kepemimpinan, tetapi untuk menutupnya.

Di antara dua titik itu terdapat perjalanan panjang yaitu pengabdian, kepercayaan, tanggung jawab, keberhasilan, tantangan, dan tentu saja berbagai kekurangan yang ia akui sendiri.

Tetapi ia tidak ingin para lulusan mengingat dirinya hanya sebagai rektor yang meninggalkan kursi kepemimpinan. Ia ingin mereka mengingat pesan yang lebih sederhana yaitu terus belajar, jaga kepercayaan, dan menjadi manusia yang baik.

Menjaga Nama Baik Almamater

Menjelang akhir sambutannya, Herman kembali menitipkan pesan kepada para lulusan.

Ijazah, katanya, bukan tanda bahwa proses belajar telah selesai. Justru setelah keluar dari kampus, pengalaman baru akan menjadi guru yang tidak kalah penting.

Ia meminta para alumni menjaga nama baik almamater di mana pun mereka berada. “Semoga adik-adik semua dapat memberikan inspirasi dan menjadi orang-orang yang mampu memimpin serta memberikan kontribusi bagi masyarakat,” pesannya.

Enam (JITUFK.) nilai sederhana yang diharapkannya tidak berhenti sebagai akronim yang diingat sesaat setelah wisuda, melainkan menjadi pegangan ketika para lulusan menghadapi dunia yang sesungguhnya. Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, toga akan disimpan, dan seremoni akan berlalu. Yang tersisa adalah bagaimana seseorang menjalani kehidupan setelah semua itu.

Dan seperti pesan yang disampaikan Herman pada hari terakhirnya sebagai rektor, setiap pertemuan pada akhirnya akan sampai pada perpisahan.[Bustami Ibrahim]


Berita Lainnya

Kirim Komentar