
PERJALANAN ke Malaysia tidak sekadar menjadi pengalaman akademik bagi Mhd Irwansyah, mahasiswa Program Studi Antropologi Universitas Malikussaleh (Unimal).
Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional, ia justru menemukan pelajaran berharga tentang kedekatan bahasa, budaya, dan sejarah masyarakat Melayu yang melintasi batas negara.
Irwan (nama panggilannya) menjadi salah satu peserta KKN Internasional yang dilaksanakan di Kampung Yan Keudah, Kedah, Malaysia, pada 2–9 Agustus 2026 lalu. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari International Community Service (ICS) 2026 yang diinisiasi Universitas Teuku Umar (UTU).
Program ICS 2026 dipimpin oleh Dr. Afrizal Tjoetra M.Si, selaku ketua panitia pelaksana. Kegiatan ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi mitra dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Selain Universitas Malikussaleh, perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam program tersebut antara lain Universitas Halu Oleo (UHO), Universitas Putra Malaysia (UPM), Universitas Utara Malaysia (UUM), Universitas Riau (UNRI), serta Prince of Songkla University (PSU), Thailand.
Bagi Irwan, keterlibatannya dalam KKN Internasional bukan hanya tentang menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di negeri orang. Lebih dari itu, perjalanan tersebut membuka ruang baginya untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah kebudayaan dapat tumbuh dan berkembang melampaui batas-batas geografis sebuah negara.
Selama berada di Kedah, ia menemukan sejumlah kemiripan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia, terutama dalam penggunaan bahasa dan praktik kebudayaan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika ia berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan tetap dapat dipahami oleh masyarakat setempat.
Pengalaman sederhana tersebut kemudian membawanya pada kesadaran yang lebih luas tentang keberadaan rumpun Melayu di Asia Tenggara.
“Selama di Malaysia, saya melihat bahwa rumpun Melayu ternyata sangat luas. Ada kesamaan bahasa dan budaya yang membuat masyarakat Indonesia, Malaysia, bahkan sebagian masyarakat di kawasan Thailand memiliki kedekatan,” kata Irwan saat ngopi dengan wartawan Unimalnews, Jumat (14/8/2026).
Kedah juga memberikan pengalaman geografis dan budaya yang menarik bagi Irwansyah. Wilayah tersebut berada tidak jauh dari perbatasan Malaysia dengan Thailand, khususnya kawasan Provinsi Songkhla. Di wilayah perbatasan itu, ia menemukan masyarakat yang masih memiliki kedekatan dengan budaya Melayu, termasuk penggunaan bahasa Melayu dalam komunikasi sehari-hari di sebagian komunitas.
Temuan tersebut membuatnya melihat bahwa batas negara tidak selalu menjadi batas bagi kebudayaan. Bahasa, tradisi, dan identitas budaya dapat terus hidup dan berkembang di tengah perubahan wilayah politik dan administratif.
Bagi mahasiswa Antropologi, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang tidak mungkin sepenuhnya diperoleh hanya dari ruang kelas.
Teori mengenai kebudayaan, masyarakat, identitas, dan hubungan antarkelompok yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan mendapatkan makna baru ketika ia berhadapan langsung dengan masyarakat dan lingkungan budaya yang berbeda.
Interaksi selama berada di Malaysia membuat Irwan memahami bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang statis. Kebudayaan bergerak bersama manusia, berpindah, beradaptasi, dan menemukan bentuknya di berbagai wilayah.
Dalam konteks rumpun Melayu, kedekatan bahasa dan budaya menjadi salah satu bukti bahwa hubungan antarmasyarakat telah terjalin jauh sebelum batas-batas negara modern terbentuk seperti sekarang.
KKN Internasional pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar program pengabdian. Bagi Irwan, perjalanan tersebut menjadi ruang belajar untuk memahami masyarakat secara lebih dekat sekaligus melihat bagaimana identitas budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan manusia di tengah perbedaan negara.
"Saya belajar bahwa untuk memahami sebuah kebudayaan, seseorang tidak cukup hanya membaca buku atau mempelajari teori, tetapi juga perlu hadir, berinteraksi, mendengar, dan melihat langsung kehidupan masyarakat," sebut Irwan.[Bustami Ibrahim]