Mimpi Desy di Balik Rumah Berdinding Gedek

SHARE:  

Humas Unimal
Desy Fatmasari dari Program Studi Administrasi Publik Universitas Malikussaleh (Unimal)

HUJAN yang turun deras pada masa kecilnya bukan sekadar kenangan bagi Desy Fatmasari. Dari balik tetesan air yang merembes melalui atap rumah sederhana berdinding gedek atau anyaman bambu di sebuah desa kecil di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tumbuh sebuah keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Kini, bertahun-tahun setelah masa itu berlalu, Desy berdiri di atas panggung Auditorium Tgk A Wahab Dahlawy, Kampus Reuleut, Aceh Utara. Bukan lagi sebagai seorang siswi yang berusaha menyelamatkan buku tugas dari tetesan hujan, melainkan sebagai seorang sarjana dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.

Rabu, 30 September 2026, menjadi salah satu hari yang paling bersejarah dalam perjalanan hidupnya. Desy Fatmasari dari Program Studi Administrasi Publik Universitas Malikussaleh (Unimal) dipercaya mewakili para wisudawan dan wisudawati untuk menyampaikan sambutan pada prosesi Wisuda Angkatan ke-39.

Di hadapan pimpinan universitas, dosen, orang tua, serta ratusan wisudawan lainnya, Desy tidak sekadar berbicara tentang gelar sarjana. Ia membawa sebuah cerita tentang perjuangan, keluarga, kesempatan, dan mimpi yang tumbuh dari kesederhanaan.

“Hari ini, kita mengenakan toga. Hari ini, sebuah gelar disematkan di belakang nama kita. Namun sesungguhnya, yang kita rayakan hari ini bukan hanya sebuah gelar. Yang kita rayakan adalah perjalanan,” ungkap Desy.

Perjalanan itu bermula dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkutan batu, sedangkan ibunya bekerja sebagai tukang cuci gosok. Kehidupan keluarga mereka jauh dari kemewahan.

Desy masih mengingat bagaimana kondisi rumahnya ketika duduk di bangku sekolah dasar. Rumah itu sederhana, berdinding gedek dan beratapkan bambu. Ketika hujan deras turun, kebocoran menjadi bagian dari keseharian.

Saat mengerjakan tugas sekolah, ia harus berpindah tempat mengikuti arah tetesan air yang jatuh dari atap.

Buku dipindahkan ketika tetesan air mulai mengenai tempatnya belajar. Namun beberapa saat kemudian, air kembali menetes di tempat lain. Buku pun kembali dipindahkan.

Begitu seterusnya.

Namun, di tengah kondisi tersebut, Desy tidak pernah menganggap rumah sederhana itu sebagai penghalang untuk bermimpi.

“Saya tidak pernah berpikir bahwa rumah itu membuat saya tidak boleh bermimpi. Justru dari tempat yang sangat sederhana itulah saya pertama kali belajar tentang arti sebuah perjuangan,” tuturnya.

Mimpi tersebut kemudian membawanya meninggalkan kampung halaman dan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Malikussaleh. Kesempatan memperoleh Beasiswa KIP-Kuliah menjadi salah satu pintu yang membantunya melanjutkan pendidikan.

Di lingkungan kampus, Desy tidak hanya menjalani perkuliahan. Ia juga aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan dan prestasi.

Perjalanan akademiknya mengantarkan Desy meraih predikat Mahasiswa Berprestasi III Tingkat Provinsi Aceh LLDIKTI XIII Tahun 2025. Pada tahun yang sama, ia juga dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi I Universitas Malikussaleh 2025.

Tidak berhenti pada prestasi akademik, Desy turut melahirkan karya kreatif melalui Komik Si Gempi AR 3D, sebuah karya yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia juga dipercaya sebagai Duta Muda Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe.

Berbagai pengalaman tersebut akhirnya mengantarkannya pada satu titik yang mungkin dahulu sulit dibayangkan dengan mengenakan toga dan berdiri sebagai seorang sarjana.

Bagi Desy, pencapaian itu bukan semata-mata tentang dirinya.

Ia justru mengajak seluruh wisudawan untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, terutama pengorbanan orang tua yang sering kali tidak terlihat.

“Saya berdiri di sini bukan karena saya lebih hebat dari wisudawan dan wisudawati lainnya. Saya berdiri di sini sebagai bukti bahwa orang tua adalah pahlawan yang luar biasa,” ucapnya.

Di balik toga yang dikenakan para wisudawan, menurut Desy, terdapat tangan-tangan orang tua yang bekerja tanpa mengenal lelah. Ada tangan yang menggenggam cangkul, kaki yang terus melangkah menjajakan dagangan, keringat yang bercucuran, dan air mata yang mungkin tidak pernah diketahui anak-anak mereka.

Semua itu menjadi bagian dari perjalanan menuju hari wisuda.

“Di balik toga yang kami kenakan hari ini, ada langkah, doa, dan pengorbanan orang tua yang tak pernah terlihat di atas panggung. Jasamu tiada bisa digantikan,” sebutnya lagi.

Pesan yang sama ia sampaikan kepada para dosen dan civitas academica Universitas Malikussaleh. Menurutnya, ilmu, nasihat, dan bimbingan yang diperoleh selama berada di bangku kuliah akan menjadi bekal bagi para lulusan untuk menghadapi kehidupan setelah kampus.

Ia pun menyampaikan terima kasih atas kesabaran dan keikhlasan para dosen dalam membimbing mahasiswa sekaligus memohon maaf atas berbagai kesalahan selama menempuh pendidikan.

Wisuda bukanlah garis akhir. Justru, toga yang dikenakan hari itu menjadi simbol dimulainya perjalanan baru.

Ia mengingatkan rekan-rekannya bahwa gelar akademik membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

“Keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai impian, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain,” tutur Desy.

Karena itu, ia mengajak para lulusan untuk menjadikan ilmu yang diperoleh selama kuliah bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala, tetapi diwujudkan dalam tindakan, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kisah Desy menjadi salah satu warna dalam pelaksanaan Wisuda Angkatan ke-39 Universitas Malikussaleh. Pada wisuda yang berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026, Unimal mewisuda sebanyak 1.247 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan.

Prosesi wisuda berlangsung di Auditorium Tgk A Wahab Dahlawy, Kampus Reuleut, Aceh Utara. Sebanyak 653 lulusan mengikuti prosesi pada hari pertama, sedangkan 594 lulusan lainnya diwisuda pada hari kedua.

Bagi ribuan lulusan tersebut, dua hari pelaksanaan wisuda menjadi penanda berakhirnya satu fase kehidupan sekaligus awal dari perjalanan baru di tengah masyarakat.

Ada yang akan melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, membangun usaha, maupun mengabdikan ilmu di berbagai bidang.

Namun, seperti pesan yang disampaikan Desy, perjalanan setiap lulusan memiliki cerita masing-masing.

Ada perjuangan yang terlihat dan ada pula yang berlangsung diam-diam. Ada orang tua yang bekerja di balik layar, ada dosen yang membimbing dengan sabar, dan ada mimpi yang terus dijaga meski tumbuh dari keadaan yang sederhana.

Desy sendiri telah menunjukkan bahwa perjalanan menuju toga tidak selalu dimulai dari tempat yang sempurna.

Terkadang, ia bermula dari rumah kecil dengan dinding bambu, buku yang harus dipindahkan ketika hujan turun, serta orang tua yang bekerja keras agar anaknya tetap bisa bersekolah.

Mimpi itu kemudian membawanya hingga ke Universitas Malikussaleh, meraih berbagai prestasi, dan akhirnya berdiri di hadapan ratusan wisudawan dengan toga yang dikenakan.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Desy menitipkan satu kalimat kepada rekan-rekannya yang juga baru menyelesaikan perjalanan akademik.

“Teruntuk para wisudawan, sampai jumpa di puncak tertinggi.”

Kalimat itu sekaligus menjadi penutup sebuah perjalanan panjang dari rumah sederhana di Simalungun hingga panggung wisuda di Universitas Malikussaleh. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa mimpi tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dapat tumbuh dari perjuangan, doa, dan keyakinan untuk terus melangkah.[Bustami Ibrahim]


Berita Lainnya

Kirim Komentar