
UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Dosen Universitas Malikussaleh perkenalkan wakaf kepada para peternak kambing pada kelompok usaha CEO19 Farm, Desa Meunasah Alue, Dusun Paloh Pineng, Kota Lhokseumawe, Minggu (20/9/2026).
Kegiatan itu merupakan agenda Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diketuai oleh Falahuddin MSM, beranggota Hanif MPd, Arliansyah MSi dan Reza Juanda MEcDev.
Ketua PkM, Falahuddin mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mendorong masyarakat, khususnya kelompok peternak, agar tidak hanya melihat wakaf sebagai aset yang bersifat konsumtif, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Wakaf memiliki potensi besar untuk menjadi modal sosial dan ekonomi apabila dikelola secara produktif. Dalam konteks Aceh, kita memiliki kearifan lokal berupa sistem mawah yang dapat dikembangkan dan dipadukan dengan konsep wakaf produktif,” ujarnya.
Menurutnya, pola mawah merupakan salah satu bentuk praktik ekonomi masyarakat Aceh yang telah lama dikenal, terutama dalam pengelolaan ternak dan usaha pertanian, melalui mekanisme kerja sama dan bagi hasil antara pemilik modal atau aset dengan pengelola.
"Kami memperkenalkan kembali konsep mawah dalam perspektif pengembangan wakaf produktif, sehingga aset wakaf dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," ungkapnya.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan materi dari tiga narasumber dengan perspektif yang berbeda.
Pemateri pertama adalah Muslina MSi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Inkubator Peternakan pada UPTD IBI Dinas Peternakan Aceh. Ia memberikan edukasi terkait aspek teknis dan pengembangan usaha peternakan.
"Para peternak harus mampu memahami pengelolaan usaha ternak secara lebih baik, mulai dari pemeliharaan hingga pengembangan usaha yang berkelanjutan," terangnya.
Pemateri kedua, Zulfahmi MH dari Bank Indonesia Kota Lhokseumawe. Ia menyampaikan mengenai ekonomi dan keuangan syariah (Eksyar), khususnya pengembangan wakaf produktif.
"Pemahaman mengenai wakaf tidak berhenti pada aspek konseptual, tetapi diarahkan pada bagaimana wakaf dapat dikembangkan menjadi sumber daya ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ucapnya.
Sementara, pemateri ketiga, Dr Fuadi, dari Yayasan Ukhuwah Masyarakat Cendekia (YUMC), yang merupakan Nazir Wakaf bersertifikasi BNSP. Ia memberikan edukasi mengenai wakaf produktif dan peran nazir dalam mengelola aset wakaf secara profesional, amanah dan berorientasi pada kemanfaatan masyarakat.
"Wakaf produktif pada prinsipnya tidak hanya berbicara tentang menyerahkan aset untuk kepentingan sosial, tetapi juga bagaimana aset tersebut dikelola sehingga menghasilkan manfaat yang terus mengalir," sebutnya.
"Dalam konteks peternakan, pola tersebut dapat dikembangkan melalui skema kerja sama yang memungkinkan aset atau modal wakaf dikelola oleh masyarakat produktif dengan mekanisme yang sesuai prinsip syariah," tambahnya.
Sementara itu, Ketua kelompok Usaha Peternakan CEO19 Farm, Mansur SE, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai mawah dan wakaf produktif memberikan perspektif baru bagi kelompok peternak dalam mengembangkan usaha.
“Selama ini masyarakat mengenal mawah sebagai pola kerja sama yang sudah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Aceh. Dengan adanya pemahaman tentang wakaf produktif, kami melihat ada peluang untuk mengembangkan pola tersebut secara lebih terarah dan memberikan manfaat yang lebih luas,” katanya.
Ia juga mengharapkan supaya kegiatan ini tidak berhenti pada proses sosialisasi dan edukasi. "Semoga kegiatan ini dapat meningkatan pendapatan peternak, pembukaan peluang usaha, penguatan kelembagaan, maupun tumbuhnya ekosistem ekonomi syariah," tutupnya. [fzl]