_.jpeg)
UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Dosen Fakultas Teknik, Universitas Malikussaleh, melatih masyarakat Gampong Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, mengolah sampah organik menjadi kompos menggunakan metode Takakura serta membuat lubang resapan biopori.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berjudul “Penerapan Takakura Eco Village Berbasis Circular Economy untuk Reduksi Sampah Organik Permukiman di Desa Padang Sakti”.
Tim PkM diketuai oleh Dr Abdul Jalil, dosen Program Studi Teknik Sipil, dengan anggota Lusyana Eka Wardani MPWK, dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Dewi Fitria Marlisa MT, Maisarah MT, Aisyah Protonia Tanjung MRE serta Rahmatun Maula MT, dari Program Studi Teknik Lingkungan.
Abdul Jalil menjelaskan bahwa hasil analisis situasi menunjukkan sekitar 65 persen timbulan sampah rumah tangga di Gampong Padang Sakti merupakan sampah organic dengan jumlah penduduk mencapai 3.084 jiwa atau 787 kepala keluarga.
Menurutnya keterbatasan sarana pengelolaan sampah serta kebiasaan membuang dan membakar sampah menjadi persoalan lingkungan yang perlu ditangani.
“Dengan kondisi tersebut, diperlukan pendekatan pengelolaan sampah yang sederhana, mudah diterapkan, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” ungkapnya melalui rilis yang diterima Unimalnews, Sabtu (17/10/2026).
Untuk menjawab persoalan tersebut, kata Abdul, tim PkM memperkenalkan pengelolaan sampah organik melalui pembuatan kompos Takakura skala rumah tangga, komposter komunal menggunakan drum serta pembangunan 10 lubang resapan biopori.
"Upaya ini diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan permukiman yang lebih bersih dan berkelanjutan," katanya.
“Kami berharap kegiatan ini dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Melalui pemanfaatan teknologi Takakura dan lubang biopori, sampah organik yang sebelumnya dibuang dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi tanaman dan lingkungan,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan Takakura Eco Village dimulai pada 26 September 2026 melalui sosialisasi dan praktik pembuatan kompos.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, tim menghadirkan M Nazaruddin MP, dosen Fakultas Pertanian Unimal, untuk menyampaikan materi tentang pengolahan sampah organik menjadi kompos dan manfaatnya dalam mendukung konsep ekonomi sirkular.
“Melalui konsep tersebut, sampah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan kulit buah, dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang berguna bagi tanaman sekaligus mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan,” jelas Nazaruddin.
Selanjutnya, Lusyana Eka Wardani memandu demonstrasi pembuatan kompos Takakura melalui dua pendekatan, yaitu pengomposan skala rumah tangga menggunakan keranjang sederhana dan pengomposan komunal menggunakan drum berkapasitas lebih besar.
Dalam praktik tersebut, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan bahan lokal, seperti sekam padi dan dedak, penyiapan media pengomposan, serta pengoperasian dan perawatan komposter agar proses penguraian sampah berlangsung dengan baik dan menghasilkan kompos berkualitas.
Memasuki bulan Oktober 2026, tim PkM melanjutkan kegiatan dengan memantau kondisi kompos yang telah dibuat. Tim juga mempraktikkan pembuatan 10 lubang resapan biopori sebagai bagian dari upaya pengelolaan lingkungan permukiman.
“Penerapan teknologi sederhana ini bertujuan membantu meningkatkan peresapan air hujan ke dalam tanah pada lokasi yang sesuai, sekaligus memperkenalkan alternatif penguraian sampah organik di lingkungan masyarakat,” tambah Lusyana.
Salah seorang peserta, Halimatus Sakdiah, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan yang diberikan tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga melibatkan masyarakat secara langsung dalam praktik pembuatan kompos.
“Baru kali ini ada kegiatan yang benar-benar bermanfaat bagi kami. Bukan hanya teori, tetapi kami juga langsung mempraktikkannya, sehingga bisa membawa pulang kompos dan melanjutkan pembuatan kompos untuk kebutuhan sehari-hari,” tutupnya. []