
UNIMALNEWS | Reuleut – Universitas Malikussaleh (Unimal) mewisuda 1.247 lulusan pada Wisuda Angkatan ke-39 yang berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026, di Auditorium Tgk A Wahab Dahlawy, Kampus Reuleut, Aceh Utara.
Prosesi wisuda tersebut menjadi momentum penting bagi ribuan lulusan dari berbagai jenjang pendidikan sebelum memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Sebanyak 653 lulusan mengikuti prosesi pada hari pertama, sementara 594 lulusan lainnya diwisuda pada hari kedua.
Wakil Rektor Bidang Akademik Unimal, Dr. Ir. Azhari, ASEAN Eng, mengatakan para lulusan berasal dari sejumlah fakultas dan program pendidikan yang ada di lingkungan Unimal.
Fakultas Teknik menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 434 orang, disusul Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sebanyak 164 orang, Fakultas Hukum 134 orang, Fakultas Kedokteran 49 orang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) 65 orang, serta Program Profesi Insinyur sebanyak 18 orang.
Dari keseluruhan lulusan, sebanyak 429 orang berhasil meraih predikat Dengan Pujian. Pada hari pertama, terdapat 238 lulusan yang meraih predikat tersebut, sedangkan pada hari kedua sebanyak 191 lulusan.
Prosesi wisuda juga diikuti sejumlah tokoh yang turut menyelesaikan pendidikan di Unimal. Di antaranya Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Ali Imran, lulusan Magister Manajemen, yang saat ini menjabat sebagai Komandan Korem 011/Lilawangsa sekaligus Danrindam Iskandar Muda.
Selain itu, Senator DPD RI Azhari Cage juga mengikuti prosesi wisuda setelah menyelesaikan pendidikan pada Program Magister Administrasi Publik Unimal.
Rektor Unimal, Prof. Dr. Herman Fithra, ASEAN Eng, mengatakan wisuda tidak semata-mata menjadi seremoni akademik, tetapi merupakan momentum bagi para lulusan untuk memasuki fase kehidupan yang lebih luas.
Menurut Herman, tingginya antusiasme lulusan untuk hadir dalam prosesi wisuda menunjukkan bahwa momentum tersebut memiliki arti tersendiri. Bahkan, kata dia, sejumlah lulusan yang telah bekerja di luar daerah tetap meminta dispensasi agar dapat mengikuti wisuda.
“Artinya, ada antusiasme yang luar biasa. Mereka ingin hadir dan bersama-sama merasakan momen wisuda ini,” kata Herman.
Dalam kesempatan tersebut, Herman juga menyampaikan sejumlah perkembangan yang dicapai Unimal selama masa kepemimpinannya. Salah satu capaian yang disorot adalah penguatan akreditasi institusi dan program studi.
Ia mengatakan, ketika mulai memimpin Unimal pada 2018, akreditasi institusi masih berada pada kategori baik. Pada saat itu, menurut Herman, belum ada program studi di Unimal yang memperoleh predikat unggul.
Seiring waktu, Unimal kemudian berhasil meraih akreditasi unggul. Herman menegaskan capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika, mahasiswa, tenaga kependidikan, pemangku kepentingan, serta dukungan orang tua mahasiswa.
“Ini adalah capaian yang kita raih bersama. Karena itu, siapa pun yang melanjutkan kepemimpinan universitas ini harus terus menjaga reputasi Unimal,” ujarnya.
Selain penguatan akreditasi, perkembangan Unimal juga ditandai dengan semakin lengkapnya jenjang pendidikan yang tersedia, mulai dari diploma, sarjana, magister, program profesi hingga doktor.
Jumlah profesor di Unimal juga meningkat. Herman menyebut jumlah profesor yang sebelumnya hanya sekitar dua orang kini telah mencapai 25 orang. Peningkatan tersebut berjalan seiring dengan bertambahnya dosen bergelar doktor yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri.
Menurut Herman, penguatan sumber daya manusia menjadi modal penting bagi Unimal untuk menghasilkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah maupun Indonesia.
“Menjadi Bintang Itu Pilihan”
Di hadapan para wisudawan, Herman tidak hanya menyampaikan capaian universitas, tetapi juga menitipkan pesan mengenai bekal yang perlu dimiliki para lulusan setelah meninggalkan bangku kuliah.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik. Pengetahuan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan karakter, etika dan tanggung jawab.
“Menjadi bintang itu pilihan. Kalau mau menjadi bintang, berarti harus belajar. Belajar secara formal seperti hari ini atau belajar dari pengalaman,” katanya.
Herman menegaskan, prestasi akademik tidak akan memiliki makna apabila tidak disertai dengan kebaikan dan etika. Kecerdasan dan keberhasilan, kata dia, harus diwujudkan melalui perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjadi orang baik adalah kewajiban. Tanpa etika yang baik, bintang itu tidak ada artinya,” ujarnya.
Sebagai pesan bagi para lulusan, Herman memperkenalkan prinsip JITUFK, yang terdiri dari jujur, inisiatif, tanggung jawab, berpikir luas, fokus dan konsisten.
Huruf J berarti jujur. Herman meminta para lulusan selalu menjunjung kejujuran, terutama terhadap diri sendiri.
“Orang lain mungkin bisa kita tipu, tetapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri,” katanya.
Selanjutnya, I berarti inisiatif. Para lulusan diminta tidak menjadi pribadi yang hanya menunggu perintah, tetapi berani mengambil langkah dan memulai sesuatu.
“Jangan duduk, jangan menunggu. Di mana pun kita berada, harus memiliki inisiatif,” pesannya.
Huruf T berarti tanggung jawab. Herman mengingatkan agar para lulusan tidak menghindari tanggung jawab atas pekerjaan maupun keputusan yang telah diambil.
Sementara U mengandung pesan untuk berpikir luas. Para lulusan diharapkan mampu melihat perbedaan agama, suku, golongan dan latar belakang sebagai bagian dari kehidupan sosial yang harus dihargai, bukan menjadi penghalang untuk berkomunikasi dan bekerja sama.
Selanjutnya adalah F, yakni fokus. Para lulusan diminta berkonsentrasi terhadap bidang dan pekerjaan yang dijalani sehingga dapat memberikan hasil terbaik.
Terakhir, K berarti konsisten atau istiqamah. Herman menekankan bahwa keberhasilan tidak cukup hanya dengan memulai sesuatu, tetapi membutuhkan ketekunan untuk menjalankannya secara berkelanjutan.
“Kalau mau berhasil, harus jujur, punya inisiatif, bertanggung jawab, berpikir luas, fokus dan konsisten,” katanya.
Herman berharap para lulusan tidak berhenti belajar setelah menerima ijazah. Menurutnya, kehidupan setelah kampus justru menuntut setiap individu untuk terus beradaptasi, memperluas pengalaman dan membangun karakter.
Ia juga mengingatkan para alumni agar senantiasa menjaga nama baik almamater di mana pun berada.
Wisuda Angkatan ke-39, kata Herman, menjadi momentum yang membanggakan bagi Unimal. Para lulusan diharapkan mampu membawa ilmu, pengalaman dan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan untuk diterapkan di tengah masyarakat.
“Semoga adik-adik semua dapat memberikan inspirasi dan menjadi orang-orang yang mampu memimpin serta memberikan kontribusi bagi masyarakat,” demikian pesan Herman kepada para wisudawan.[]