
UNIMALNEWS | Reuleut – Limbah organik rumah tangga yang selama ini kerap berakhir menjadi sampah mulai dilirik sebagai bahan baku produk bernilai guna. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) melatih warga Desa Reuleut Timu, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, mengolah limbah organik menjadi Green Detergent berbasis Methyl Ester Sulfonate (MES)-Ecoenzyme.
Pelatihan yang berlangsung Kamis (1/10/2026) tersebut diikuti 38 peserta. Kegiatan ini tidak hanya mengenalkan keterampilan membuat deterjen ramah lingkungan, tetapi juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular sebagai salah satu pendekatan dalam pengelolaan sumber daya dan pembangunan desa berkelanjutan.
Kegiatan dipimpin Henni Fitriani sebagai ketua pelaksana, dengan anggota tim Nuraini Fatmi dan Muttakin. Para peserta diperkenalkan pada proses pemanfaatan limbah organik melalui fermentasi hingga menghasilkan ecoenzyme. Bahan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu komponen dalam formulasi Green Detergent berbasis MES.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diajak mengubah cara pandang terhadap limbah. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang memiliki fungsi dan nilai tambah.
“Melalui kegiatan ini kami ingin masyarakat melihat bahwa limbah bukan semata-mata persoalan, tetapi juga dapat menjadi sumber daya. Dengan mengolah limbah organik menjadi ecoenzyme dan mengembangkannya menjadi Green Detergent, masyarakat diperkenalkan pada praktik ekonomi sirkular secara nyata,” kata Henni.
Menurutnya, pendampingan tidak berhenti pada proses pembuatan produk. Peserta juga dibimbing hingga tahap pengemasan dan pemberian label sehingga memahami rangkaian pengembangan produk, mulai dari bahan baku hingga menjadi produk yang siap diperkenalkan kepada masyarakat.
“Pendampingan kami lakukan hingga tahap pengemasan dan pemberian label produk agar keterampilan ini dapat menjadi pijakan untuk pengembangan produk lokal yang mendukung kemandirian ekonomi dan desa berkelanjutan,” tuturnya.
Pelaksanaan pelatihan berlangsung secara praktik. Peserta mengikuti setiap tahapan, mulai dari pengenalan bahan, formulasi, pencampuran, hingga pengemasan produk.
Pola tersebut menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa. Jika dalam pola konvensional bahan digunakan kemudian dibuang, dalam konsep ekonomi sirkular bahan diupayakan tetap berada dalam siklus pemanfaatan selama mungkin.
Dalam kegiatan ini, limbah organik rumah tangga diolah menjadi ecoenzyme dan selanjutnya dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan Green Detergent. Dengan demikian, masyarakat diperkenalkan pada cara mengurangi timbulan limbah sekaligus menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Henni mengatakan keterlibatan masyarakat secara langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Melalui praktik, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan di rumah maupun dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
“Jika dilakukan secara berkelanjutan, praktik tersebut dapat memperkuat ekonomi lokal sekaligus mengurangi tekanan limbah terhadap lingkungan desa,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan berlangsung. Mereka aktif mengikuti proses pembuatan hingga menunjukkan produk Green Detergent yang telah dikemas dan diberi label.
Tahap pengemasan dan pelabelan dinilai penting karena memperkenalkan peserta pada aspek identitas produk dan nilai tambah. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal awal bagi masyarakat apabila produk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk lokal.
Geuchik Desa Reuleut Timu, Irwan, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan tim PKM FKIP Unimal. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah organik sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan kegiatan produktif di tingkat desa.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini karena masyarakat bukan hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga belajar bagaimana limbah organik dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna,” ungkap Irwan.
Ia berharap keterampilan tersebut dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Kami berharap kebiasaan mengolah limbah seperti ini terus berkembang sehingga mendukung kebersihan lingkungan, membuka peluang ekonomi masyarakat, dan menjadi bagian dari upaya mewujudkan Desa Reuleut Timu yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” katanya.
Produk Green Detergent berbasis MES-Ecoenzyme yang dihasilkan dalam pelatihan diharapkan menjadi salah satu alternatif produk pembersih rumah tangga yang dapat dikembangkan masyarakat. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi contoh sederhana penerapan ekonomi sirkular yang dapat dilakukan dari tingkat rumah tangga.[]