
UNIMALNEWS | Krueng Geukueh – Menjawab tantangan rendahnya capaian literasi dan numerasi peserta didik yang tercermin dalam Rapor Pendidikan di Provinsi Aceh, Tim Pengabdian Desa Binaan Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar program pendampingan berkelanjutan bagi guru-guru sekolah dasar (SD) di Kabupaten Aceh Utara.
Program bertajuk “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berbasis Eco-Pedagogy dan SDGs untuk Mengakselerasi Literasi Numerasi Siswa” tersebut resmi dimulai pada Selasa, 6 Oktober 2026, di Ruang Aula VIP Waroeng Bamboe, Aceh Utara.
Kegiatan itu dilaksanakan berdasarkan Surat Tugas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara Nomor 800.1.11.1/980/2026. Sebanyak 20 guru kelas dari sejumlah sekolah mitra mengikuti rangkaian pendampingan, di antaranya SDN 28 Sawang, SDN 9 Dewantara, SDN 3 Dewantara, SDN 13 Dewantara, SD IT Nahwanur, dan SDN 11 Dewantara.
Ketua Tim Pengabdian FKIP Unimal, Aklimawati M.Pd, mengatakan program tersebut berangkat dari persoalan pembelajaran matematika yang masih cenderung berorientasi pada buku teks dan belum sepenuhnya dikaitkan dengan kondisi nyata di lingkungan peserta didik.
Menurutnya, perangkat pembelajaran yang kontekstual diperlukan agar matematika tidak lagi dipandang siswa sebagai mata pelajaran yang abstrak dan sulit dipahami.
“Siswa sering menganggap matematika sebagai ilmu yang abstrak dan sulit. Melalui pendekatan Eco-Pedagogy dan integrasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas, konsumsi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim, kita menjadikan lingkungan sekitar sebagai laboratorium alam,” tutur Aklimawati.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut memungkinkan pembelajaran matematika dikaitkan dengan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, pengelolaan sampah plastik, pengukuran lahan, penggunaan sumber daya, hingga konservasi air.
“Pembelajaran matematika tidak lagi sekadar berhitung angka tanpa makna, tetapi langsung menjawab persoalan nyata yang ada di sekitar siswa,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, program pendampingan tidak berhenti pada penyampaian teori. Tim dosen yang terdiri atas Aklimawati, Wulandari M.Pd, Erna Isfayani M.Pd, dan Yeni Listiana M.Pd, bersama mahasiswa, merancang pendampingan secara bertahap mulai dari focus group discussion (FGD), lokakarya, hingga coaching clinic.
Para guru didampingi untuk mengembangkan modul ajar berbasis Eco-Pedagogy serta Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang mengintegrasikan literasi dan numerasi secara bertingkat serta berorientasi pada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).
Tahap berikutnya menjadi bagian penting dari program tersebut. Setelah perangkat pembelajaran disusun, tim pengabdian akan turun langsung ke kelas untuk melakukan observasi dan pendampingan real teaching.
Melalui proses tersebut, tim dapat melihat secara langsung bagaimana perangkat pembelajaran berbasis Eco-Pedagogy diterapkan dalam proses belajar mengajar sekaligus memberikan masukan untuk penyempurnaan praktik pembelajaran.
Pendampingan langsung di ruang kelas juga diharapkan memastikan inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada aspek administratif atau sekadar menghasilkan perangkat pembelajaran, tetapi benar-benar memberikan perubahan terhadap proses belajar siswa.
Program ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara akademisi Unimal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, serta para guru sekolah dasar dalam merespons tantangan peningkatan kualitas pendidikan.[]