
UNIMALNEWS | Reuleut – Dosen Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Teuku Kemal Fasya M.Hum mempresentasikan hasil penelitian tentang resiliensi atau ketahanan masyarakat lokal pascabanjir bandang hidrometeorologi di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Senin (19/10/2026).
Penelitian ini melihat kemampuan masyarakat dalam membangun kembali kehidupan setelah bencana, sekaligus mengkaji tantangan ekologis dan peran kearifan lokal dalam proses pemulihan.
Presentasi hasil penelitian tersebut berlangsung di Ruang Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), lantai III Gedung Rektorat Universitas Malikussaleh, Kampus Reuleut, Aceh Utara. Kegiatan itu dievaluasi oleh dua orang tim monitoring dan evaluasi (monev), yakni Dr. Alfian M.A dan Teuku Zulkarnaen Ph.D.
Dalam pelaksanaan penelitian yang didanai melalui skema Penelitian Terapan PNBP Unimal tersebut, Teuku Kemal bekerja bersama Dedi Fariadi M.Pd, Rizki Yunanda M.Si, serta dua mahasiswa, Sri Wahyu Ningsih dan Shah Diva Nazwa Ramadani.
Kemal mengatakan, tim peneliti telah turun langsung ke sejumlah gampong yang mengalami dampak parah akibat banjir bandang. Beberapa lokasi yang dikunjungi di antaranya Gampong Blang Reuling, Paya Rabo, dan Riseh Teungoh. Di Riseh Teungoh, dampak bencana bahkan menyebabkan satu dusun hilang.
Temuan lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kondisi masyarakat setelah bencana, termasuk bagaimana warga menghadapi perubahan lingkungan, mempertahankan kehidupan sosial, dan berupaya memulihkan aktivitas sehari-hari di tengah keterbatasan yang dihadapi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dan antropologi sosial untuk mengkaji daya adaptasi masyarakat, memetakan aktor-aktor yang terlibat, serta mengidentifikasi persoalan ekologi dan kebijakan pengelolaan lingkungan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai peluang, hambatan, dan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam membangun ketahanan pascabencana.
Selain menelaah kemampuan masyarakat untuk bertahan dan bangkit, penelitian ini juga menyoroti pentingnya tata kelola lingkungan yang berkelanjutan dan pemanfaatan kearifan lokal. Aspek tersebut menjadi perhatian karena pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan perbaikan kondisi fisik, tetapi juga menyangkut keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Kemal menyampaikan bahwa pengumpulan data masih akan dilanjutkan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi masyarakat terdampak. Tim peneliti berencana kembali ke lapangan, terutama ke gampong-gampong yang akses transportasinya terputus, seperti Gunci dan Kubu.
Langkah lanjutan tersebut diperlukan agar kondisi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau dapat turut terdokumentasi dalam penelitian. Dengan demikian, analisis mengenai strategi bertahan hidup dan pemulihan masyarakat dapat mencakup pengalaman warga di berbagai lokasi terdampak.[]