FK Unimal Gelar Konferensi Internasional, Perkuat Kolaborasi Kesehatan dan Mitigasi Bencana

SHARE:  

Humas Unimal
FK Unimal Gelar Konferensi Internasional, Perkuat Kolaborasi Kesehatan dan Mitigasi Bencana

UNIMALNEWS | Reuleut – Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (FK Unimal) kembali memperkuat peran akademisi dalam pengembangan ilmu kesehatan dan penanggulangan bencana melalui penyelenggaraan The 3rd Malikussaleh International Conference on Health and Disaster Medicine (MICOHEDMED) 2026, Rabu (21/10/2026). 

Konferensi internasional yang berlangsung secara hybrid di Gedung Fakultas Kedokteran Kampus Reuleut Aceh Utara dan melalui Zoom Meeting ini mempertemukan akademisi, peneliti, serta pakar dari berbagai negara untuk membahas strategi membangun masyarakat yang tangguh menghadapi risiko bencana dan kedaruratan kesehatan.

Mengusung tema “Advancing Sustainable Collaboration in Health, Medicine, and Disaster Management for a Resilient Society”, MICOHEDMED 2026 menjadi forum pertukaran pengetahuan dan gagasan ilmiah sekaligus upaya memperluas jejaring kerja sama nasional dan internasional di bidang kesehatan, kedokteran, serta manajemen bencana.

Ketua panitia MICOHEDMED 2026, dr. Rivhan Fauzan, M.Ked.(Cardio) Sp JP, mengoordinasikan penyelenggaraan konferensi yang diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Kedokteran Unimal, dr. Muhammad Sayuti Sp.B Subsp.BD(K).

Muhammad Sayuti menegaskan bahwa konferensi yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali tersebut merupakan bagian dari komitmen FK Unimal dalam mengembangkan keunggulan di bidang kedokteran kebencanaan, sejalan dengan visi dan misi fakultas.

“Penyelenggaraan MICOHEDMED yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali ini sudah memasuki penyelenggaraan ketiga. Kegiatan ini merupakan salah satu wujud komitmen FK Unimal dalam mengembangkan keunggulan di bidang kedokteran kebencanaan yang sesuai dengan visi-misi fakultas kami,” katanya.

Ia menjelaskan, konferensi internasional tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas akademik, penelitian, dan kolaborasi lintas disiplin maupun lintas negara. Upaya itu dinilai penting untuk menghasilkan sumber daya manusia kesehatan yang kompeten dan siap menghadapi situasi bencana.

“Kami berharap forum ini dapat memperluas jejaring kerja sama yang berkelanjutan, mendorong pengembangan ilmu kedokteran kebencanaan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Konferensi kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Ir. Azhari ASEAN Eng. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat kerja sama internasional dan menghasilkan penelitian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi berbasis riset terhadap berbagai persoalan, termasuk tantangan di bidang kesehatan dan kebencanaan.

Ia berharap MICOHEDMED 2026 menjadi momentum untuk memperluas jejaring akademik serta mendorong kolaborasi berkelanjutan yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Salah satu agenda utama MICOHEDMED 2026 adalah scientific session yang diawali dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto Ph.D. Sesi ilmiah ini juga menghadirkan lima pembicara undangan (invited speakers) dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang membahas berbagai pendekatan dalam penguatan sistem kesehatan dan ketangguhan menghadapi bencana.

Dari Kanada, Prof. Lisa Hiwasaki dari Department of Management, Laval University, memaparkan materi berjudul “Indigenous Knowledge for Community-Based Disaster Resilience”. Pemaparannya mengangkat pentingnya pengetahuan masyarakat lokal dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas terhadap risiko bencana.

Perspektif pendidikan kedokteran disampaikan oleh dr. Anna Millizia, M.Ked.(An) Sp.An, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FK Unimal. Melalui materi “From Classroom to Crisis: Building a Disaster-Ready Healthcare Workforce Through Collaborative Medical Education”, ia membahas pentingnya pendidikan kedokteran kolaboratif dalam mempersiapkan tenaga kesehatan menghadapi situasi krisis.

Sementara itu, isu pengawasan penyakit menular menjadi perhatian Prof. Dr. Masdalina Pane S.K.M M.Kes dari Infectious Disease and Public Health Emergency Research Group, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia. Dalam materi “Global Strategies in Infectious Disease Surveillance”, ia mengangkat strategi pengawasan penyakit menular dalam perspektif kesehatan masyarakat.

Dari Malaysia, Dr. Darween Rozehan Shah Iskandar Shah dari School of Medicine, Perdana University, membahas keterkaitan kesehatan lingkungan, kebijakan, dan pembangunan masyarakat tangguh bencana melalui materi “Integrating Environmental Health and Policy for Sustainable Disaster-Resilient Societies”.

Adapun aspek pemulihan psikososial pascabencana dibahas Prof. Dr. Sefa Bulut dari School of Education, Ibn Haldun University, Turki. Melalui materi “Community-Based Psychosocial Support for Post-Disaster and Recovery”, ia menyoroti dukungan psikososial berbasis komunitas sebagai bagian penting dalam proses pemulihan setelah bencana.

Beragam perspektif yang dihadirkan dalam sesi ilmiah tersebut memperkaya pembahasan mengenai penanggulangan bencana, mulai dari pemanfaatan pengetahuan lokal, kesiapan tenaga kesehatan, pengawasan penyakit menular, kesehatan lingkungan, hingga dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Setelah sesi pemaparan para pembicara, kegiatan dilanjutkan dengan parallel oral presentation yang dilaksanakan secara hibrida. Pada sesi ini, para pemakalah mempresentasikan hasil penelitian dan kajian ilmiah sesuai dengan bidang masing-masing.

Forum tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendiskusikan temuan penelitian, bertukar gagasan, serta memperluas perspektif mengenai berbagai persoalan kesehatan dan manajemen bencana. Interaksi ilmiah ini juga menjadi bagian penting dalam membangun jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi penelitian lintas institusi.[]


Berita Lainnya

Kirim Komentar