
UNIMALNEWS | Lhoksukon – Tiga dosen Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh (Unimal), membekali lebih dari 40 kader perempuan ‘Aisyiyah dengan keterampilan pendampingan psikososial bagi perempuan terdampak bencana.
Pelatihan yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Aceh bekerja sama dengan INKLUSI (Kemitraan Australia–Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif) itu berlangsung di Aula Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (24/10/2026).
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan psikologis bagi perempuan penyintas bencana, terutama mereka yang masih menghadapi tekanan emosional meskipun proses perbaikan rumah dan pemulihan fisik mulai berjalan. Para kader diharapkan mampu memberikan pendampingan awal yang tepat, mengenali kebutuhan penyintas, serta menghubungkan mereka dengan layanan profesional apabila diperlukan.
Pengurus ‘Aisyiyah Daerah Aceh Utara, Suraiya, mengatakan pelatihan tersebut berangkat dari kebutuhan nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis para penyintas.
“Hampir setahun setelah banjir, banyak ibu di Aceh Utara yang rumahnya sudah mulai diperbaiki, tetapi hatinya belum pulih. Kader ‘Aisyiyah ada di tengah mereka setiap hari. Karena itu, kami ingin para kader punya bekal yang tepat untuk mendampingi para penyintas,” tuturnya.
Dalam pelatihan tersebut, ketiga dosen Unimal menyampaikan materi yang saling melengkapi. Maya Lestari, S.Pd., M.Ed., membawakan materi Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Rahmia Dewi, S.Psi., M.Psi., menyampaikan materi keterampilan mendengarkan aktif, sedangkan Ella Suzanna, S.Psi., MHSc., memberikan pembekalan mengenai skrining trauma pascabencana.
Maya Lestari menjelaskan bahwa pertolongan pertama psikologis merupakan bentuk dukungan awal yang aman, menenangkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan penyintas. Dalam praktiknya, pendamping perlu membantu penyintas merasa aman dan memperoleh dukungan tanpa memaksa mereka menceritakan kembali pengalaman traumatis yang dialami.
“Pertolongan pertama psikologis bukan soal menyembuhkan. Intinya hadir, membuat penyintas merasa aman, lalu menghubungkannya dengan bantuan yang ia butuhkan. Siapa pun yang terlatih bisa melakukannya, tidak harus psikolog,” kata Maya.
Materi berikutnya menyoroti pentingnya keterampilan mendengarkan aktif dalam proses pendampingan. Rahmia Dewi menekankan bahwa perhatian penuh, empati, dan sikap tidak menghakimi merupakan dasar untuk membangun kepercayaan antara pendamping dan penyintas.
Menurutnya, keinginan untuk segera memberikan nasihat atau menghibur terkadang justru membuat penyintas merasa bahwa kehilangan dan penderitaan mereka tidak dipahami. Karena itu, pendamping perlu memberikan ruang bagi penyintas untuk menyampaikan perasaan dan kebutuhannya tanpa tekanan.
“Sering kali kita ingin cepat-cepat menasihati, padahal yang dibutuhkan penyintas adalah didengarkan. Kalimat seperti ‘masih untung Ibu selamat’ niatnya baik, tetapi bisa membuat mereka merasa kehilangannya tidak dianggap,” tutur Rahmia.
Sementara itu, Ella Suzanna membekali peserta dengan pengetahuan dasar untuk mengenali tanda-tanda tekanan psikologis setelah bencana melalui skrining trauma. Keterampilan tersebut diperlukan agar kader dapat mengidentifikasi penyintas yang membutuhkan dukungan lanjutan maupun mereka yang perlu segera dirujuk kepada tenaga profesional.
Ella menegaskan bahwa skrining bukanlah proses untuk menetapkan diagnosis, melainkan langkah awal dalam mengenali kebutuhan bantuan seseorang.
“Skrining itu saringan, bukan diagnosis. Kader tidak bertugas memberi label kepada penyintas, tetapi mengenali siapa yang perlu dibantu lebih lanjut dan memastikan mereka sampai ke layanan yang tepat,” jelasnya.
Sepanjang kegiatan, peserta mengikuti materi dengan antusias melalui diskusi, tanya jawab, dan berbagai aktivitas interaktif. Sesi ice breaking yang disisipkan di antara penyampaian materi turut menciptakan suasana pelatihan yang lebih cair sehingga peserta lebih leluasa berbagi pengalaman dan memahami keterampilan yang diajarkan.
Salah seorang peserta, kader ‘Aisyiyah dari Kecamatan Lhoksukon, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai cara mendampingi perempuan yang mengalami tekanan emosional setelah bencana.
“Selama ini kalau ada tetangga yang menangis, saya langsung bilang ‘sabar, Bu’. Ternyata yang lebih penting adalah mendengarkan dulu. Setelah pelatihan ini saya lebih percaya diri untuk mendampingi ibu-ibu di kampung,” ungkapnya.
Melalui pelatihan tersebut, para kader diharapkan mampu menjadi pendamping lini depan yang responsif terhadap kebutuhan perempuan penyintas bencana di wilayah masing-masing. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan membantu mereka memberikan dukungan psikososial secara aman, menghormati martabat penyintas, serta memahami batas peran pendamping dalam menghubungkan penyintas dengan layanan yang sesuai.
Suraiya menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah awal untuk memperkuat pendampingan di tingkat masyarakat. Ia berharap keterampilan yang telah dipelajari tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi diterapkan dalam interaksi sehari-hari dengan perempuan terdampak bencana.
“Kami berharap para kader ini menjadi tim pendamping lini depan yang siap turun di wilayah masing-masing. Pelatihan hari ini adalah awal, dan pendampingan kepada penyintas akan terus kami lanjutkan,” pungkasnya.[]