Dosen Antropologi Unimal Menjadi Pembedah Buku MAA Lhokseumawe

SHARE:  

Humas Unimal
Dosen Antropologi Unimal Menjadi Pembedah Buku MAA Lhokseumawe

UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Akademisi Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Teuku Kemal Fasya M.Hum menjadi salah seorang narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bedah draf buku adat yang disiapkan oleh Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor MAA Kota Lhokseumawe, Jalan T. Hamzah Bendahara, lantai dasar Islamic Center, Selasa (27/10/2026).

Draf buku berjudul Inayah Asoe Nanggroe itu merupakan bunga rampai yang mengulas beragam aspek adat dan kebudayaan Aceh. Selain Kemal Fasya, FGD tersebut menghadirkan Ketua MAA Kota Lhokseumawe, H. Saifuddin Saleh, S.H., serta seniman asal Lhokseumawe, Zul Afrizal, M.A., yang dikenal dengan nama Joel Pase.

Dalam diskusi tersebut, Kemal menyoroti pentingnya memperhatikan kualitas penulisan, penyuntingan, dan penerbitan agar sebuah buku memiliki daya tarik sekaligus kredibilitas. Menurut dia, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pemilihan judul yang efektif, ringkas, dan mampu memancing rasa ingin tahu pembaca.

Judul, katanya, sebaiknya tidak dibebani terlalu banyak unsur penjelas. Keterangan mengenai isi buku dapat disampaikan melalui anak judul sehingga judul utama tetap kuat dan menarik perhatian.

Selain aspek penulisan, Kemal juga menekankan pentingnya memilih penerbit yang memiliki reputasi baik. Keberadaan ISBN (International Standard Book Number) menjadi salah satu unsur yang perlu diperhatikan dalam penerbitan buku, terutama untuk mendukung identitas dan pendataan bibliografis karya.

“Jangan asal memilih penerbit, jika tidak mau kredibilitas karya kita tidak diakui karena tidak memiliki ISBN,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Kemal turut memberikan ulasan terhadap sejumlah materi yang dimuat dalam draf Inayah Asoe Nanggroe, mulai dari kosmologi Aceh dan hadih maja hingga karya kriya yang merepresentasikan kekayaan tradisi masyarakat Aceh.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat substansi buku agar tidak hanya mendokumentasikan pengetahuan adat, tetapi juga menyajikannya secara menarik dan relevan bagi pembaca masa kini.

Ketua MAA Kota Lhokseumawe, Saifuddin Saleh, menyambut baik berbagai masukan dan kritik yang disampaikan dalam forum tersebut. Ia berharap diskusi itu dapat memperkaya khazanah penerbitan buku tentang adat Aceh, terutama di tengah tantangan memperkenalkan kembali tradisi lokal kepada generasi muda.

“Kita menginginkan masukan ini akan semakin memperkaya khazanah penerbitan buku tentang adat Aceh yang semakin ditinggalkan oleh pembaca generasi Z,” ujarnya saat membuka FGD.

Sementara itu, Joel Pase memaparkan argumentasi terkait tulisan yang disiapkannya mengenai produk kriya Dheun Bungong Sagoe. Karya tersebut berkaitan dengan motif ukiran pada rumah-rumah uleebalang di kawasan Cunda yang kemudian diadaptasi menjadi motif sulaman kain.

Ulasan tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya Aceh tidak hanya tersimpan dalam tradisi lisan dan praktik adat, tetapi juga hadir melalui ragam hias, seni kriya, serta keterampilan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

FGD itu turut dihadiri sejumlah tokoh adat, imum mukim, serta perwakilan Dinas Kebudayaan Kota Lhokseumawe. Para peserta menyambut baik pelaksanaan diskusi tersebut dan mendorong agar kajian mengenai adat dan kebudayaan Aceh dapat dilakukan secara lebih intensif dan berkelanjutan.[]


Berita Lainnya

Kirim Komentar