Usung Tiga Program Penguatan Literasi, Mahasiswa Akuntansi Raih Wakil 1 Duta Baca 2026

SHARE:  

Humas Unimal
Muhammad Rio Hamdani

UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Muhammad Rio Hamdani, mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)  meraih penghargaan sebagai Wakil 1 Duta Baca Universitas Malikussaleh (Unimal) Tahun 2026.

Penghargaan tersebut diraih setelah Rio melewati serangkaian tahapan seleksi yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Unimal pada 2–5 November 2026. Proses seleksi meliputi seleksi administrasi, wawancara, hingga karantina yang berlangsung di Aula Serbaguna UPT Perpustakaan dan Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe.

Rio menyebutkan, pencapaian tersebut bukan sekadar gelar atau penghargaan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun budaya literasi. Ia ingin menjadikan amanah sebagai Duta Baca sebagai kesempatan untuk menghadirkan gerakan literasi yang kreatif, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, pelajar, serta masyarakat luas.

Menurut Rio, literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi merupakan fondasi untuk membangun pola pikir kritis, memperluas wawasan, serta mengolah pengetahuan menjadi gagasan dan solusi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

“Menurut saya, membaca bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang mampu kita selesaikan, tetapi tentang sejauh mana pengetahuan tersebut mampu mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Saya ingin menjadikan literasi sebagai jembatan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga mampu menciptakan perubahan,” ungkapnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Rio mengusung konsep gerakan literasi bertajuk "Membaca, Menggagas, dan Berdampak". Konsep ini menjadi landasan dalam merancang tiga program unggulan, yakni Literaksi, Read to Create, dan Literacy Talks. Ketiganya dirancang untuk mendorong budaya membaca sekaligus mengembangkan kreativitas, produktivitas, dan wawasan generasi muda.

Program pertama, Literaksi (Literasi dalam Aksi), merupakan kegiatan pengabdian literasi yang menyasar masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dasar. Kegiatan ini dikemas melalui aktivitas membaca bersama, mendongeng (storytelling), serta permainan edukatif yang menyenangkan. Melalui pendekatan tersebut, Rio ingin menumbuhkan ketertarikan anak-anak terhadap buku dan membangun kebiasaan membaca sejak usia dini.

Program kedua, Read to Create (Dari Bacaan Menjadi Karya), difokuskan pada pengembangan kreativitas mahasiswa. Melalui lokakarya dan pendampingan, mahasiswa didorong untuk mengolah pengetahuan dari bahan bacaan menjadi karya produktif, seperti esai, artikel opini, infografis edukatif, hingga konten literasi digital.

Sementara itu, Literacy Talks dirancang sebagai ruang diskusi dan berbagi wawasan dengan melibatkan Duta Baca dari berbagai perguruan tinggi, pegiat literasi, serta tokoh yang memiliki perhatian terhadap pengembangan budaya membaca. Program ini diharapkan mampu memperluas wawasan, membangun jejaring kolaborasi, sekaligus menghadirkan inspirasi mengenai perkembangan dan tantangan literasi di era digital.

Rio menilai, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi saat ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi budaya literasi. Kemudahan mengakses informasi harus diimbangi dengan kemampuan memilah, memahami, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu mengelola dan menyebarkan informasi secara cerdas serta bertanggung jawab.

Menariknya, latar belakang keilmuan Rio sebagai mahasiswa Akuntansi turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya literasi. Ia melihat adanya keterkaitan antara budaya membaca dengan kemampuan analisis, pemahaman data, ketelitian, serta pengambilan keputusan yang menjadi bagian penting dalam dunia akuntansi.

Baginya, literasi merupakan kebutuhan lintas disiplin ilmu yang berperan dalam membentuk sumber daya manusia yang kritis, teliti, dan memiliki wawasan luas. Karena itu, budaya literasi perlu terus diperkuat, tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai Wakil 1 Duta Baca Unimal 2026, Rio berharap ketiga program unggulannya dapat direalisasikan melalui kolaborasi dengan UPT Perpustakaan, mahasiswa, sekolah, komunitas literasi, dan berbagai pihak lainnya. Ia ingin gerakan literasi tidak hanya berkembang di lingkungan kampus, tetapi juga menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Harapan saya, literasi tidak hanya hadir dalam bentuk kegiatan seremonial, tetapi benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan dan budaya. Kita ingin menjadikan membaca sebagai fondasi, menggagas sebagai proses pengembangan pengetahuan, dan berdampak sebagai tujuan akhirnya. Sebab, pengetahuan akan jauh lebih bermakna ketika mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Rio juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, kepercayaan, dan kesempatan selama proses pemilihan Duta Baca berlangsung. Ia menyadari bahwa penghargaan yang diraihnya bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam penguatan budaya literasi.

“Penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk memberikan kontribusi yang lebih luas. Saya percaya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari hal sederhana: satu buku yang dibaca, satu gagasan yang dilahirkan, dan satu tindakan yang memberikan manfaat. Mari bersama-sama membangun budaya literasi, karena dari membaca kita memperoleh pengetahuan, dari pengetahuan kita melahirkan gagasan, dan dari gagasan kita menciptakan dampak,” tutupnya.[]


Berita Lainnya

Kirim Komentar