Dosen Antropologi Unimal Jadi Pembedah Buku Sejarah

SHARE:  

Humas Unimal
Tangkap layar Zoom Meeting, Rabu (11/3/2026).

UNIMALNEWS | Lhokseumawe  – Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Malikussaleh, Dr Teuku Kemal Fasya, menjadi pembicara dalam kegiatan bedah buku Historia Magistra Viate: Merawat Bangsa Mengajarkan Sejarah, karya dosen Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Dr Abd Rahman Hamid. 

Narasumber lainnya dalam bedah buku tersebut adalah Indah Wahyu Puji Utami PhD dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Adapun yang menjadi pembahas adalah guru besar Sejarah Universitas Sumatera Utara, Prof Dr Budi Agustono.

Kegiatan bedah buku dilaksanakan oleh Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (11/3/2026).

Kepala Prodi Ilmu Sejarah, Dra Lila Pelita Hati MSi, dalam sabutannya menyatakan bahwa bedah buku ini adalah bagian dari pendalam pengetahuan sejarah. "Kegiatan ini juga mejadi kegiatan rutin Prodi Ilmu Sejarah dalam menjalankan peran Tridarma Perguruan Tinggi," ungkapnya.

Dalam penyampaiannya, Teuku Kemal menyebutkan bahwa buku Historia Magistra Vitae ini merupakan buku antologi yang berisi 61 artikel dan dibagi kepada 8 bab. "Sebagian bab berbicara tentang sejarah lokal dalam perspektif antropologis yang menekankan pada dua aspek analisis, yaitu diakronik atau sejarah dan kebudayaan. “Namun bagi saya delapan bab dengan 61 artikel terlalu meluas, sehingga bisa dibuat klusterisasi yang lebih padat dalam membaca tema-tema terfokus,” paparnya.

Namun mengutip perspektif sejarawan, Robert Berkhofer, dalam bukunya Beyond Great Story : History as Text and Discourse penulisan buku ini bisa membuka sisi lain yang tidak terlihat dalam penulisan sejarah konvensional yang melulu melihat pada aspek elite dan narasi besar kekuasaan. Maka sejarah perlu didekonstruksi dengan memasukkan sisi korban, perempuan, dan minoritas dalam mendekonstruksi narasi masa depan”, ungkapnya mengutip pandangan profesor sejarah asal Amerika tersebut," jelas Kemal.

Sementara pembicara kedua, Indah Wahyu Puji, menyamut baik penulisan buku sejarah yang banyak mengupas sisi Indonesia Timur yang selama ini kurang terungkap. Ini bisa memberikan kekayaan dalam konteks penulisan sejarah nasional baru. Namun ia memberikan catatan tentang kutipan dan anotasi, termasuk dalam penggunaan cover.

“Kita bisa mendapatkan referensi baru tentang penulisan sejarah yang berasal dari sumber-sumber populer dan memberikan kesadaran pada Gen-Z untuk juga mau mempelajari sejarah lokal,” tutupnya. [fzl]


Kirim Komentar