Rektor Unimal Paparkan Peran Koperasi Desa Merah Putih Mengatasi Kemiskinan Pada Simposium Kependudukan 2026

SHARE:  

Humas Unimal
Rektor Universitas Malikussaleh; Prof Dr Herman Fithra Asean Eng paparkan materi dalam kegiatan Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Universitas Udayana, Bali. Foto: Ist

UNIMALNEWS | Bali - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / BKKBN bekerja sama dengan Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK), telah selesai menggelar kegiatan Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, pada Kamis (23/4/2026). Kegiatan bertema “Memajukan Ketahanan Demografi dan Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Inklusif: Inovasi Kebijakan Berbasis Bukti” itu dilaksanakan di Kampus Universitas Udayana, Bali.

Simposium tersebut bertujuan untuk menghasilkan rumusan kebijakan dan rekomendasi strategis berbasis bukti empiris dalam rangka mendukung peta jalan pembangunan kependudukan serta menjaga stabilitas demografi melalui penguatan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Hadir beberapa rektor perguruan tinggi negeri sebagai narasumber kegiatan tersebut. Salah satunya adalah Rektor Universitas Malikussaleh, Prof Dr Herman Fithra Asean Eng.

Dalam kesempatan tersebut Prof Herman memaparkan materi tentang Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sebagai Instrumen  Strategis Pengentasan Kemiskinan. Mengutip dari pernyataan Bung Hatta, Prof Herman mengatakan bahwa Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, melainkan akan bercahaya karena lilin-lilin kecil di desa. “Koperasi Merah Putih inilah  manifestasi dari 80.000 lilin-lilin ekonomi yang akan menerangi nusantara,” ujar Prof Herman.

Selanjutnya, menurut paparan Prof Herman, keberadaan KDMP akan memutus rantai kemiskinan dari hulu ke hilir dengan peran offtaker. Selama ini rantai pasok sebuah barang untuk sampai ke konsumen di desa itu panjang, sehingga harga tidak stabil dan margin akan diserap oleh perantara. “Dengan hadirnya KDMP maka akan terjadi efisiensi logistik dan harga akan stabil,” terangnya.

Perguruan tinggi dapat mengambil peran lewat tridarma sehingga program KDMP dapat menjadi intervensi strategis nantinya. Tiga hal yang dapat dilakukan kampus adalah menyiapkan kurikulum koperasi modern dengan cara menyiapkan sumber daya manusia dengan keahlian akuntansi syariah. Kedua, melakukan kajian potensi komoditas lokal, dan yang ketiga dengan melakukan pendampingan manajemen. “Perguruan tinggi dapat menyiapkan inkubator bisnis di kampus untuk membantu pemasaran produk lokal ke skala yang lebih luas,” tutup Prof Herman.[ryn]

 


Kirim Komentar