
UNIMALNEWS - Nanning - Solusi penyelamatan kerbau Gayo menjadi salah satu isu yang berkembang di "International Symposium on Bufallo Technological Innovation and industrial Development Exchange Activity” di Nanning, Guangxi - Tiongkok pada 22-26 April 2026.
Simposium yang digagas oleh Guangxi Buffalo Research Institute menghadirkan 32 narasumber. Demikian rilis Unimalnews yang didapatkan oleh salah seorang peserta dari Universitas Malikussaleh, Dr. Abdullah Akhyar Nasution.
Para narasumber berasal dari negara- negara yang memiliki populasi kerbau dari India, Pakistan, China, Nepal, Bangladesh, Thailand, Indonesia, Turki, Itali, Cuba, Brazil, Argentina, dan Mesir ikut memberikan pandangan tentang realitas lokal kerbau di negara masing-masing. Pada kegiatan tersebur para praktisi yang diundang adalah pimpinan Royal Cell Biotechnology (Guangxi) Cina, Asosiasi penggiat kerbau seperti Internation Buffalo Federation (Itali), Asian Buffalo Assosiation, Chiacchierini Bull Stud Company (Itali) serta berapa pusat penelitian kerbau.
Menurut Akhyar, para pembicara didominasi oleh pakar dari bidang ilmu peternakan, kedokteran hewan dan para praktisi usaha bidang peternakan kerbau. "Hanya saya yang berlatar belakang Antropologi", ungkapnya.
Pemaparannya tentang pengembangan peternakan kerbau secara tradisional menekankan bahwa pengembangan peternakan kerbau tidak bisa hanya berbasis pada teknis dan teknologi peternakan modern. "Kebudayaan masyarakat pemilik peternakan kerbau juga harus dipahami. Karenanya teknologi peternakan harusnya mendukung sistem peternakan yang ada bukan menggantikan," ujarnya memberikan penekanan.
Prinsip inilah yang disebut konsep Etnosilvopatur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bersama Prof. Dr. Hamdani Harahap (USU), Prof. Dr. Ika Sumantri (ULM), dan Prof. Tri Satya Mastuti Widi (UGM) pilihan inilah untuk mengembangkan peternakan kerbau di Gayo Lues.
"Tantangan terberatnya adalah, apakah pemerintah daerah mau sedikit berusaha mengusulkan dan menetapkan adanya kawasan-kawasan yang khusus diperuntukkan bagi peternakan kerbau? Jika pemerintah berkeinginan, maka bisa dipastikan kerbau Gayo akan kembali kaya dan bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat," tambahnya.
Pemaparan tentang potensi penerapan konsep ini di Gayo Lues mendapat perhatian peserta. Kajian dari Indonesua menunjukkan bahwa ada nilai relatif berbeda dengan materi lainnya yang membicarakan teknis peternakan mulai dari kajian genetik kerbau, efisiensi pakan dan lahan, teknik budidaya sampai teknologi pengolahan daging dan susu kerbau.
Hal penting lainnya, adalah bahwa pengetahuan tentang kerbau di masyarakat Gayo bisa menjadi bahan pertimbangan di belahan lain di dunia yang memiliki tradisi berternak. Selain itu, hal lain yang tak kalah penting adalah bahwa forum setidaknya menyatakan bahwa kerbau adalah pilihan sumber protein yang paling prospektif. "Daging dan susu yang dihasilkan kerbau dinilai lebih sehat dan lebih baik bagi lingkungan karena sistem peternakannya menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan peternakan sapi," katanya berpromosi.
Akhyar menekankan keterlibatan pemerintah melalui kebijakannya dengan melibatkan perguruan tinggi, pusat penelitian melalui kajian dan pengembangan teknologi, sektor swasta, dan masyarakat pemilik kerbau.
"Negara yang baru mengenal kerbau domestik seperti Kuba, Italia, dan Brasil sudah serius mengembangkan industri peternakan kerbau, sementara kita yang sudah ratusan atau mungkin ribuan tahun memiliki hubungan dengan kerbau belum cukup punya atensi untuk melakukan pengembangan, termasuk teknologi perternakan," tutupnya. [tkf]