
UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Komitmen mendorong praktik bisnis yang ramah lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan terus diperkuat oleh Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perguruan Tinggi (PUI PT) TechnoPlast (Technology of Natural Polymer and Recycle Plastics) Universitas Malikussaleh.
Bersama Space to Grow Development, lembaga tersebut menggelar Seminar Internasional dan Coaching Clinic Sustainable Business and Circular Economy bertema “Rethinking Sustainability: Inovasi, Kolaborasi, dan Transformasi Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan” di Ruang Rapat Fakultas Teknik Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah kolaboratif yang mempertemukan akademisi, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), komunitas, mahasiswa, serta mitra internasional untuk memperkuat pemahaman dan implementasi bisnis berkelanjutan di tengah meningkatnya tantangan lingkungan dan ekonomi global.
Ketua PUI PT TechnoPlast Universitas Malikussaleh, Dr. Zulnazri M.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa isu keberlanjutan kini tidak lagi sekadar menjadi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus terintegrasi dalam setiap strategi pembangunan dan pengembangan usaha.
“Keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui kegiatan ini, kami berharap tercipta sinergi antara akademisi, pelaku usaha, komunitas, mahasiswa, serta mitra internasional untuk melahirkan inovasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Zulnazri.
Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan, khususnya terkait pengelolaan sampah dan pemanfaatan sumber daya, tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan masyarakat guna menghasilkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan.
Seminar menghadirkan dua narasumber dari Space to Grow Development yang memiliki pengalaman dalam pengembangan bisnis berkelanjutan di tingkat internasional, yakni Henny Cahyanti, RFA, selaku Consultant Business, dan Amber Desist, Director of Space to Grow Development.
Dalam pemaparannya, Henny Cahyanti menekankan pentingnya membangun model bisnis yang mampu bertahan dan berkembang melalui inovasi, penguatan kapasitas usaha, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar, serta pengelolaan keuangan yang sehat dan terukur.
Materi tersebut mendapat perhatian besar dari peserta karena tidak hanya relevan bagi pelaku UMKM dan bisnis rintisan, tetapi juga memberikan perspektif baru bagi kalangan akademisi dalam mengelola program, sumber daya, dan perencanaan keuangan secara lebih efektif, akuntabel, serta berorientasi pada dampak jangka panjang.
Sementara itu, Amber Desist memperkaya diskusi melalui perspektif global mengenai penerapan konsep Sustainable Business dan Circular Economy di berbagai negara. Ia menegaskan bahwa masa depan bisnis tidak lagi hanya diukur dari keuntungan ekonomi semata, melainkan juga dari kemampuan menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang positif.
Menurut Amber, kolaborasi multipihak merupakan kunci dalam membangun ekosistem usaha yang tangguh dan berdaya saing. Berbagai negara, katanya, telah menjadikan ekonomi sirkular sebagai strategi untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui inovasi dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Salah satu isu yang menjadi fokus pembahasan dalam seminar tersebut adalah persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi tantangan global. Kedua narasumber menekankan bahwa sampah tidak seharusnya dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Namun demikian, mereka menegaskan bahwa langkah paling mendasar adalah mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui perubahan pola konsumsi masyarakat, peningkatan penggunaan kembali produk (reuse), serta penguatan praktik daur ulang (recycle).
Peserta juga diajak menjadi agen perubahan dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) tidak hanya dalam aktivitas usaha, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak lagi berfokus pada penanganan di hilir, melainkan dimulai dari pencegahan di hulu untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Usai seminar, kegiatan dilanjutkan dengan sesi coaching clinic yang berlangsung interaktif. Pada sesi ini, peserta memperoleh kesempatan untuk berkonsultasi langsung mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam pengembangan usaha.
Beragam isu dibahas, mulai dari penyusunan model bisnis, identifikasi peluang inovasi, strategi pemasaran, penguatan manajemen keuangan, hingga penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Mayoritas peserta merupakan pelaku UMKM, komunitas, serta unit bisnis rintisan binaan PUI PT TechnoPlast yang bergerak di bidang pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah. Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, peserta berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan di lapangan, mulai dari pemilahan sampah dari sumbernya, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah, hingga upaya meningkatkan nilai ekonomi sampah melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar.
Selain pelaku usaha dan komunitas, kegiatan ini juga diikuti dosen peneliti PUI PT TechnoPlast serta mahasiswa Universitas Malikussaleh yang menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang rangkaian acara. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, generasi muda, dan jejaring internasional dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan seminar internasional dan coaching clinic ini, PUI PT TechnoPlast kembali menegaskan perannya sebagai pusat unggulan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan riset di bidang polimer alam dan daur ulang plastik, tetapi juga aktif mendampingi masyarakat serta pelaku usaha dalam membangun praktik bisnis yang inovatif, tangguh, berdaya saing global, dan berkelanjutan.
Semangat kolaborasi yang dibangun dalam kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak inovasi dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Langkah kecil yang dilakukan bersama dapat melahirkan perubahan besar. Saatnya tumbuh dengan dampak dan bergerak dengan makna demi masa depan yang lebih berkelanjutan,” tutup Amber Desist.[]