Mahasiswa Psikologi Unimal Dampingi Penyintas Banjir Paloh Raya Pulihkan Trauma melalui Psikoedukasi

SHARE:  

Humas Unimal
Mahasiswa Psikologi Unimal Dampingi Penyintas Banjir Paloh Raya Pulihkan Trauma melalui Psikoedukasi

UNIMALNEWS | Krueng Geukueh  – Mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar kegiatan psikoedukasi bertajuk "Ibu Tangguh, Keluarga Tangguh: Program Penguatan Coping dan Dukungan Sosial bagi Ibu Rumah Tangga dalam Pemulihan Pascabencana Banjir di Huntara Desa Paloh Raya", Minggu (26/7/2026), di hunian sementara (Huntara) Desa Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara.

Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Intervensi Bencana tersebut menyasar para penyintas banjir bandang yang melanda Desa Paloh Raya pada akhir 2025. Sebanyak 20 peserta mengikuti program ini, terdiri atas 11 ibu rumah tangga dan sembilan anak-anak.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak psikologis pascabencana, memperkuat kemampuan coping atau strategi menghadapi tekanan, serta membangun dukungan sosial sebagai bagian dari proses pemulihan kesehatan mental penyintas.

Program ini dilaksanakan oleh sembilan mahasiswa Psikologi Unimal, yakni Fathiyah Alifah Nasution, Saras Nayla Aljannah, Seila Mutiara Sawitri Lubis, Vivi Sri Mulyani, Ayu Rizki, Anggina Agustina, Najwa Mayana, Amelia Putri, dan Khaira 'Izzani.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi perkenalan dan pengisian pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta mengenai stres pascabencana, strategi coping, dan dukungan sosial. Selanjutnya, materi psikoedukasi disampaikan oleh Najwa Mayana yang menjelaskan berbagai reaksi psikologis yang lazim dialami penyintas bencana, pentingnya strategi coping yang adaptif, serta peran lingkungan sosial dalam mempercepat proses pemulihan.

Suasana kegiatan semakin hangat ketika memasuki sesi Focus Group Discussion (FGD). Para peserta secara terbuka menceritakan pengalaman mereka saat banjir bandang melanda serta berbagai tantangan yang masih dihadapi hingga kini. Sebagian besar mengaku masih merasakan kesedihan, kecemasan, dan ketakutan setiap kali hujan turun. Kehilangan rumah dan harta benda juga menjadi pengalaman yang meninggalkan luka mendalam.

Dalam diskusi tersebut, para ibu saling menguatkan dan berbagi cara menghadapi tekanan psikologis. Pendekatan spiritual menjadi strategi coping yang paling banyak disampaikan peserta. Mereka mengaku memperoleh ketenangan melalui doa, zikir, membaca Al-Qur'an, serta berserah diri kepada Allah SWT sehingga mampu menerima musibah dengan lebih ikhlas.

Selain trauma psikologis, peserta juga mengungkapkan bahwa persoalan ekonomi masih menjadi tantangan terbesar setelah bencana. Sulitnya memulihkan mata pencaharian dan memenuhi kebutuhan keluarga menjadi sumber kekhawatiran yang hingga kini masih mereka rasakan selama tinggal di Huntara.

Momen haru mewarnai kegiatan saat pelaksanaan pre-test. Beberapa peserta lanjut usia mengalami kesulitan mengisi lembar pertanyaan sehingga tim mahasiswa membantu membacakan setiap butir soal. Ketika diminta menceritakan kembali peristiwa banjir yang mereka alami, dua orang ibu lanjut usia tak mampu menahan tangis karena trauma yang masih membekas.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa memberikan ruang kepada peserta untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui sesi diskusi kelompok. Tim juga menjelaskan bahwa rasa takut, sedih, maupun cemas merupakan reaksi yang wajar setelah mengalami bencana, sekaligus memberikan edukasi mengenai cara-cara sehat dalam mengelola stres.

Tidak hanya memberikan materi, mahasiswa juga mengajak peserta mempraktikkan teknik relaksasi pernapasan sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri ketika menghadapi kecemasan atau tekanan emosional. Latihan tersebut mendapat sambutan positif karena peserta dapat langsung merasakan manfaatnya dalam membantu tubuh menjadi lebih rileks.

Salah seorang anggota tim, Vivi Sri Mulyani, mengatakan kegiatan ini merupakan wujud kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang masih berada dalam proses pemulihan pascabencana.

"Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi ibu-ibu di Huntara Paloh Raya. Melalui psikoedukasi ini, kami ingin membantu mereka memahami bahwa berbagai perasaan yang muncul setelah bencana merupakan hal yang wajar, sekaligus memberikan bekal mengenai cara menghadapi stres dan pentingnya saling mendukung dalam proses pemulihan," ujarnya.

Sementara itu, pemateri Najwa Mayana menegaskan bahwa kemampuan coping dan dukungan sosial merupakan faktor penting dalam membantu penyintas bangkit dari dampak bencana.

"Kami ingin para peserta mengetahui bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi berbagai kesulitan setelah banjir. Dengan memilih strategi coping yang tepat dan saling memberikan dukungan, proses pemulihan akan terasa lebih ringan," katanya.[]


Kirim Komentar