
UNIMALNEWS | Bukit Indah – Jurusan Antropologi dan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh (FISIP) terus memperkuat budaya akademik yang kolaboratif melalui program Sharing Session, sebuah ruang belajar yang menempatkan mahasiswa sebagai penggerak utama dalam berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.
Program yang telah memasuki pertemuan kelima ini dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat sebagai bagian dari upaya menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih partisipatif, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan kapasitas mahasiswa.
Ketua Jurusan Antropologi dan Sosiologi, Ade Ikhsan Kamil, M.A, mengatakan bahwa Sharing Session dirancang untuk memberikan ruang bagi mahasiswa agar dapat saling belajar dan bertukar pengalaman di luar proses pembelajaran formal di kelas.
"Program Sharing Session menjadi wadah bagi mahasiswa untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dapat mendukung proses akademik maupun pengembangan kapasitas diri. Setiap pertemuan mengangkat tema yang berbeda sesuai kebutuhan mahasiswa sehingga peserta memperoleh wawasan baru yang aplikatif dan relevan, baik untuk perkuliahan maupun persiapan memasuki dunia kerja," ujarnya.
Ade menjelaskan, sebelum memasuki pertemuan kelima, berbagai tema telah dihadirkan dalam program tersebut dengan menghadirkan narasumber dari kalangan mahasiswa yang memiliki kompetensi pada bidang tertentu. Menurutnya, pendekatan pembelajaran antarteman atau peer learning menjadi salah satu kekuatan utama program ini.
"Melalui Sharing Session, kami ingin membangun budaya peer learning, yaitu proses belajar yang berlangsung melalui kolaborasi antarmahasiswa. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperluas keterampilan praktis yang tidak selalu diperoleh di dalam ruang kuliah," jelasnya.
Selain memperkaya wawasan akademik, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta berpikir kritis. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga diberi kesempatan menjadi fasilitator yang menyampaikan materi kepada rekan-rekannya.
Menurut Ade, keterlibatan aktif mahasiswa dalam setiap sesi menjadi modal penting untuk membangun lingkungan belajar yang dinamis dan saling mendukung. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya bergantung pada dosen di ruang kelas, tetapi juga berkembang melalui kolaborasi dan pertukaran pengalaman antarmahasiswa.
Ke depan, Jurusan Antropologi dan Sosiologi berkomitmen untuk terus menyelenggarakan Sharing Session setiap hari Jumat dengan menghadirkan tema-tema yang beragam dan disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa.[]