
UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Sebanyak 17 mahasiswa calon Duta Humas Universitas Malikussaleh (Unimal) 2026 mendapat pembekalan mengenai pentingnya kecerdasan etika, Kemalikussalehan, serta strategi kehumasan di tengah perubahan lanskap komunikasi digital.
Pembekalan tersebut disampaikan Dosen Antropologi sekaligus Sekretaris Senat Unimal dan Senior Kepala UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan Unimal, Dr. Teuku Kemal Fasya M.Hum di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Kamis (10/9/2026).
Dalam pemaparannya, Teuku Kemal mengangkat materi “Ethical Intelligence, Kemalikussalehan, dan Peran Kehumasan”. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan etika merupakan kemampuan praktis untuk mengenali, menganalisis, dan menghadapi dilema moral dalam kehidupan nyata, sehingga seseorang mampu mengambil keputusan berdasarkan keadilan, empati, dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar berpegang pada aturan atau kewajiban hukum.
Menurutnya, kecerdasan etika memiliki keterkaitan erat dengan kecerdasan emosional yang mencakup kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Kemampuan tersebut menjadi penting bagi insan kehumasan karena mereka berhadapan langsung dengan publik, informasi, sekaligus berbagai kepentingan yang tidak selalu sederhana.
“Dalam dunia kerja maupun kehidupan sosial, tidak semua persoalan berada dalam wilayah hitam dan putih. Karena itu, diperlukan kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan keadilan, empati, serta tanggung jawab sosial,” demikian pokok materi yang disampaikan dalam pembekalan tersebut.
Selain kecerdasan etika, Teuku Kemal mengajak para calon Duta Humas memahami konsep Kemalikussalehan sebagai bagian dari identitas dan nilai yang melekat dengan Universitas Malikussaleh.
Dalam materi tersebut dijelaskan, terminologi Kemalikussalehan terinspirasi dari nama Universitas Malikussaleh dan Sultan Malikussaleh atau Meurah Silue, yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Samudera Pasai setelah memeluk Islam.
Teuku Kemal juga mengajak mahasiswa melihat sejarah Samudera Pasai tidak hanya dari sosok pendirinya, tetapi juga dari perkembangan kerajaan pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malikuzzahir II. Pada periode tersebut, Samudera Pasai berkembang sebagai pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan di kawasan Melayu, dengan pelabuhan internasional serta komoditas seperti lada, sutra, kapur barus, dan emas.
Pembahasan sejarah tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat Kemalikussalehan sebagai nilai yang dapat direfleksikan dalam kehidupan kampus, termasuk dalam menjalankan peran sebagai Duta Humas.
Memasuki pembahasan kehumasan, Teuku Kemal menekankan bahwa dunia komunikasi telah mengalami perubahan besar. Media sosial, mesin pencari, teknologi audiovisual, dan telepon pintar telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memproduksi, dan menyebarkan informasi.
Dalam materi pembekalan disebutkan bahwa telepon pintar dan media sosial telah mengambil sebagian fungsi media pers pada era sebelumnya. Kondisi tersebut menuntut insan humas untuk mampu beradaptasi dengan ekosistem media yang semakin multiplatform.
Karena itu, Duta Humas tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi. Mereka harus mampu memahami karakter setiap platform, mengemas pesan secara kreatif, serta tetap menjaga etika dan integritas dalam memproduksi konten.
“Duta Humas harus mampu menjadi bagian dari ekosistem komunikasi baru, bukan sekadar menjadi pengguna media sosial,” menjadi semangat yang tercermin dalam materi pembekalan tersebut.
Untuk memperkuat fungsi kehumasan Unimal, materi juga menekankan empat prinsip utama, yakni transparansi, integritas, akuntabilitas, dan partisipasi stakeholders. Keempat prinsip tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi.
Para calon Duta Humas juga dibekali pemahaman mengenai krisis komunikasi. Dalam era media sosial, sebuah informasi negatif, ulasan buruk, maupun peristiwa yang berkembang di ruang publik dapat dengan cepat menjadi krisis komunikasi.
Karena itu, insan humas dituntut memiliki kemampuan bertahan di tengah krisis komunikasi, menyelesaikan persoalan melalui strategi komunikasi yang tepat, serta mampu mendesain metode kehumasan sesuai dengan konteks persoalan yang dihadapi.
Kemampuan tersebut semakin penting karena Duta Humas merupakan salah satu wajah universitas di hadapan publik. Apa yang disampaikan, bagaimana merespons pertanyaan, hingga cara memproduksi konten dapat ikut membentuk persepsi masyarakat terhadap Unimal.
Pada bagian akhir pembekalan, Teuku Kemal menyampaikan karakter yang diharapkan melekat pada seorang Duta Humas Unimal.
Duta Humas, menurut materi tersebut, harus memiliki karakter kreatif, bukan pasif; inovatif, bukan berpikiran tunggal; sederhana, bukan rumit; rendah hati, bukan sombong; bergaya, bukan ceroboh; egaliter, bukan suka memerintah; serta ceria, bukan murung.
Karakter tersebut menjadi penting karena tugas Duta Humas bukan hanya berbicara mengenai universitas, tetapi juga merepresentasikan nilai dan citra institusi melalui sikap, komunikasi, serta karya yang dihasilkan.
Untuk mendukung tugas tersebut, produksi konten kehumasan Unimal dapat dikembangkan melalui berbagai kanal, mulai dari portal atau laman, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, majalah cetak, infografis hingga media partner.[]