Bastin: Duta Humas Unimal Harus Belajar Taklukkan Dunia Konten Digital

SHARE:  

Humas Unimal
Bastin: Duta Humas Unimal Harus Belajar Taklukkan Dunia Konten Digital

UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Menjadi seorang content creator di era digital tidak cukup hanya bermodalkan kamera, kemampuan berbicara, dan keinginan untuk viral. Dibutuhkan kreativitas, strategi, konsistensi, pemahaman terhadap audiens, hingga kemampuan mengevaluasi setiap konten yang diproduksi.

Hal tersebut disampaikan Staf UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan Universitas Malikussaleh (Unimal), Ahmad Al Bastin, S.I.Kom., saat memberikan pembekalan kepada 17 mahasiswa calon Duta Humas Unimal 2026 di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Kamis (10/9/2026).

Dalam materi bertajuk “Konten Kreator Profesional”, Bastin mengajak para calon Duta Humas memahami proses menjadi kreator konten secara utuh, mulai dari menemukan ide, menentukan strategi, melakukan produksi, mendistribusikan konten, membangun personal branding, hingga melihat peluang monetisasi.

Menurut Bastin, content creator merupakan individu atau tim yang membuat, mengemas, dan membagikan konten digital melalui berbagai platform online untuk menyampaikan informasi, hiburan, edukasi, maupun inspirasi kepada audiens. Bentuknya pun beragam, mulai dari foto dan desain, tulisan atau artikel, hingga podcast dan audio.

Namun, ia menekankan bahwa konten yang baik bukan sekadar menarik secara visual. Konten harus relevan, mudah dipahami, dan mampu mendorong audiens melakukan tindakan tertentu, seperti menonton hingga selesai, menyimpan, membagikan, berkomentar, atau mengikuti pesan yang disampaikan.

Salah satu hal mendasar yang perlu diperhatikan seorang content creator adalah menentukan niche atau fokus utama akun.

Bastin menjelaskan, niche membantu audiens memahami mengenai apa sebuah akun dibuat dan alasan mereka perlu mengikutinya. Beberapa contoh niche yang dapat dikembangkan antara lain edukasi, kuliner, lifestyle, fashion, teknologi, dan gaming.

Karena itu, calon Duta Humas didorong memilih niche yang sesuai dengan minat dan kemampuan, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan pasar. Kreator juga dapat memulai dari satu niche utama sebelum mengembangkan subtopik yang masih memiliki keterkaitan.

Tidak kalah penting, kreator harus mengenali target audiens. Pemahaman tersebut dapat dilihat dari aspek demografi, psikografi, hingga perilaku audiens, termasuk lokasi, status atau pekerjaan, gaya hidup, persoalan yang dihadapi, motivasi, jam aktif, format konten yang disukai, serta pola interaksi.

Dengan mengenali audiens secara tepat, konten yang dibuat akan lebih relevan dan memiliki peluang engagement yang lebih tinggi.

Dalam pembekalan tersebut, Bastin juga mengingatkan pentingnya membuat pembuka atau hook yang kuat.

Di tengah derasnya arus informasi media sosial, tiga detik pertama menjadi momentum penting untuk membuat audiens berhenti menggulir layar. Setelah itu, konten harus memberikan value atau manfaat, memiliki alur yang jelas, dan ditutup dengan call to action (CTA).

Formula tersebut dirangkum dalam empat unsur, yakni Hook, Value, Flow, dan CTA. Hook berfungsi menarik perhatian, value memberikan manfaat atau emosi, flow memastikan alur nyaman diikuti, sedangkan CTA mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan.

Bastin juga menekankan bahwa kualitas produksi tidak selalu bergantung pada peralatan mahal. Pencahayaan yang cukup, komposisi visual yang rapi, suara yang jelas, framing yang tepat, serta konsistensi kualitas visual menjadi bagian penting dalam menghasilkan konten yang terlihat profesional.

Sejumlah perangkat pendukung juga dapat dimanfaatkan kreator, seperti Canva untuk desain, CapCut untuk penyuntingan video singkat, Premiere Pro untuk kebutuhan editing lanjutan, Lightroom untuk koreksi warna foto, serta Notion atau Sheets untuk merencanakan ide dan kalender konten.

Hal menarik lainnya yang disampaikan Bastin adalah pentingnya memahami algoritma dan membangun personal branding.

Menurut materi pembekalan, algoritma platform cenderung memperhatikan sejumlah indikator seperti durasi tontonan, komentar, share, save, dan watch time. Konsistensi mengunggah konten juga menjadi bagian penting agar akun tetap aktif. Karena itu, kreator perlu membuat konten yang relevan, jelas, dan memiliki alasan kuat bagi audiens untuk berhenti menggulir.

Sementara personal branding dibangun melalui karakter akun dan gaya komunikasi yang konsisten. Identitas visual, sudut pandang yang unik, serta hubungan yang dibangun melalui respons dan interaksi dengan audiens menjadi bagian penting untuk membedakan seorang kreator dari yang lain.

Bastin juga mengingatkan agar calon Duta Humas tidak terjebak pada orientasi jumlah followers semata. Kualitas audiens dan efektivitas konten justru perlu menjadi perhatian.

Evaluasi harus dilakukan dengan melihat sejumlah indikator atau KPI, seperti reach, engagement, watch time, dan conversion. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengetahui konten mana yang efektif dan apa yang perlu diperbaiki pada produksi berikutnya.

Sebagai langkah praktis, para calon Duta Humas diperkenalkan dengan rencana aksi 30 hari. Pada minggu pertama, kreator diarahkan menentukan niche, target audiens, serta menyiapkan 20 ide konten.

Minggu kedua diisi dengan membuat lima hingga tujuh konten percobaan untuk mengetahui format yang paling sesuai. Selanjutnya, pada minggu ketiga kreator mulai melakukan publikasi secara terjadwal dan mengevaluasi konten yang paling efektif. Pada minggu keempat, kualitas visual, hook, dan CTA diperbaiki berdasarkan insight yang diperoleh.[]


Berita Lainnya

Kirim Komentar