LP3M Unimal Paparkan Model EKO-PAI dalam Simposium Nasional PAI-PTU

SHARE:  

Humas Unimal
LP3M Unimal Paparkan Model EKO-PAI dalam Simposium Nasional PAI-PTU. Foto: Ist.

UNIMALNEWS | Kuta – Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Malikussaleh mempresentasikan model kurikulum EKO-PAI dalam Simposium Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi Umum (PAI-PTU) yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Agama Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, di Kuta, Bali, Selasa–Jumat (3–6/11/2026).

Model kurikulum EKO-PAI mengintegrasikan ekoteologi dan pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) melalui pembelajaran berbasis proyek lintas program studi pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi umum.

Materi tersebut dipaparkan oleh Sekretaris LP3M Unimal, Muhammad Iqbal MPd. Ia menjelaskan bahwa pengembangan model ini berangkat dari pembaruan kurikulum yang dijalankan LP3M Unimal sepanjang 2026.

“Pedoman Penyusunan dan Pengembangan Kurikulum Unimal 2026 mewajibkan setiap mata kuliah memuat minimal satu komponen Sustainable Development Goals (SDGs) dan menjadikan pengetahuan lingkungan sebagai penciri institusi,” ungkap Iqbal.

Ia menambahkan, pengembangan kurikulum tersebut juga didorong oleh Surat Edaran Wakil Rektor Bidang Akademik Nomor 5 Tahun 2026 yang memberlakukan format Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Outcome-Based Education (OBE) terintegrasi SDGs mulai Semester Ganjil 2026/2027.

“Yang kami bawa ke Bali adalah cara kerja LP3M. Pedoman kurikulum, format RPS OBE-SDGs, validasi, dan monitoring dan evaluasi (monev) yang sudah berjalan di Unimal kami terjemahkan ke mata kuliah PAI sehingga dapat diadopsi oleh kampus lain,” jelasnya.

Penerapan model EKO-PAI antara lain menggunakan kasus banjir di Aceh Utara sebagai bahan pembelajaran. Bencana tersebut dilaporkan merusak sekitar 10,6 ribu hektare tambak rakyat di Aceh Utara atau 34,5 persen dari total kerusakan tambak di Aceh.

“Dalam kelas PAI, mahasiswa dari program studi berbeda bekerja dalam satu kelompok. Misalnya, mahasiswa Teknik Sipil merancang drainase, Akuakultur memulihkan tambak, Kedokteran menangani kesehatan lingkungan, dan Pendidikan Bahasa Indonesia menyusun narasi edukatif kebencanaan,” terangnya.

Iqbal menjelaskan, model EKO-PAI dikembangkan dalam empat lapisan, yaitu nilai ekoteologi, proyek lintas program studi berbasis STEAM, aspek digital, dan sistem pendukung. Pengembangannya menggunakan pendekatan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation).

“Kualitas model akan diuji berdasarkan tiga kriteria, yaitu valid, praktis, dan efektif. Targetnya indeks Aiken’s V minimal 0,80, tingkat kepraktisan minimal 81 persen, dan N-gain minimal 0,30. Penilaian mencakup tiga ranah dengan bobot usulan kognitif 40 persen, afektif 30 persen, dan psikomotor 30 persen,” jelasnya.

Menurut Iqbal, keunggulan model ini juga terletak pada aspek penjaminan mutu. Mata kuliah PAI diajarkan pada Prodi D3 dan S1 di Unimal memungkinkan perangkat EKO-PAI digunakan sekaligus sebagai bukti dukung pelaksanaan pembelajaran dan penjaminan mutu di seluruh program studi.

Iqbal juga menawarkan prinsip satu kerangka nasional dengan konten lokal. "Standar seperti capaian pembelajaran, sintaks pembelajaran, dan rubrik penilaian dapat disusun secara seragam, sedangkan setiap perguruan tinggi dapat mengembangkan kasus sesuai karakteristik wilayah masing-masing, seperti banjir, gambut, sampah perkotaan, atau abrasi," tambahnya.

Ia turut menyampaikan sejumlah rekomendasi, antara lain penyusunan panduan ekoteologi khusus untuk mata kuliah PAI di perguruan tinggi umum oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Selain itu, integrasi ekoteologi dengan kewajiban pencapaian SDGs dapat dilakukan tanpa menambah beban SKS melalui kolaborasi dosen lintas program studi.

Sementara itu, Kepala LP3M Unimal, Ir Syamsul Bahri MSi, menyampaikan bahwa presentasi model EKO-PAI dalam forum nasional tersebut menunjukkan peluang Unimal untuk mengembangkan dan menawarkan inovasi kurikulum berbasis potensi lokal kepada perguruan tinggi lain.

“Kita dapat melakukan pembaruan kurikulum, mulai dari pedoman kurikulum, RPS OBE-SDGs, hingga sistem monev. Hal ini tidak hanya berguna di Unimal, tetapi juga dapat ditawarkan untuk diterapkan di perguruan tinggi lain,” tutupnya. []


Berita Lainnya

Kirim Komentar