Unimal dan BNN Aceh Gelar FGD Perkuat Wawasan Kebangsaan untuk Lawan Narkoba

SHARE:  

Humas Unimal
Unimal dan BNN Aceh Gelar FGD Perkuat Wawasan Kebangsaan untuk Lawan Narkoba

UNIMALNEWS | Lhokseumawe — Universitas Malikussaleh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk penguatan wawasan kebangsaan sebagai strategi pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Aceh, Rabu (20/5/2026), di Aula Fisip Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe. Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh, Brigjen Pol. Dedy Tabrani, sebagai narasumber utama.

FGD tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Malikussaleh Prof. Herman Fithra Asean Eng, Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Prof. Danial, Kapolres Lhokseumawe AKBP Ahzan, Kapolres Aceh Utara AKBP Trie Aprianto, Kepala BNN Lhokseumawe AKBP Werdha Susetyo, unsur Forkopimda, organisasi mahasiswa, serta berbagai elemen masyarakat.

Rektor Unimal Prof. Herman Fithra menyampaikan bahwa peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah ancaman narkotika yang semakin kompleks. Menurutnya, semangat kebangsaan harus terus dihidupkan demi melindungi generasi muda Aceh menuju Indonesia Emas 2045.

“Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan kita untuk meninggalkan sekat-sekat perbedaan dan memperkuat rasa persatuan. Ancaman narkoba hari ini menjadi tanggung jawab bersama yang harus kita lawan melalui pendidikan, penguatan karakter, dan kolaborasi semua pihak,” katanya.

Sementara itu, Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dedy Tabrani mengungkapkan bahwa pola peredaran narkoba kini terus berkembang dan semakin sulit dideteksi. Salah satu ancaman serius yang menjadi perhatian adalah munculnya New Psychoactive Substances (NPS) atau narkotika jenis baru.

Menurut Dedy, secara global terdapat 1.386 jenis NPS yang telah teridentifikasi, sedangkan di Indonesia ditemukan sekitar 175 jenis yang beredar di masyarakat. Zat psikoaktif baru tersebut kini banyak disamarkan dalam bentuk cairan vape ilegal dengan kandungan berbahaya seperti etomidate, cannabinoid sintetis, dan ketamin.

“Peredaran narkotika saat ini tidak lagi dilakukan secara konvensional. Jaringan memanfaatkan jalur laut Indonesia-Malaysia-Thailand, transaksi daring melalui marketplace, hingga mata uang digital untuk menghindari pelacakan,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa pengendalian jaringan narkotika masih banyak dilakukan dari dalam lembaga pemasyarakatan. Karena itu, menurutnya, perang melawan narkoba membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Dalam pemaparannya, BNNP Aceh mencatat sepanjang 2025 berhasil mengungkap 27 kasus narkotika dari target 30 kasus. Barang bukti yang diamankan terdiri atas 206.435,78 gram sabu, 292.594 butir ekstasi, dan 188.562,13 gram ganja.

Sementara hingga Mei 2026, BNNP Aceh telah mengungkap tiga kasus narkotika dengan total barang bukti sabu seberat 64.951,37 gram.

Sebagai langkah pencegahan, BNNP Aceh juga menjalankan berbagai program unggulan seperti Gampong Bersinar, ANANDA Bersinar, Integrasi Kurikulum Anti Narkotika (IKAN), serta layanan rehabilitasi berbasis komunitas yang mudah diakses masyarakat.

Dedy menegaskan, keluarga, sekolah, kampus, masyarakat, dan pemerintah harus menjadi benteng utama dalam menyelamatkan generasi Aceh dari ancaman narkotika.

“Pencegahan narkoba tidak bisa dilakukan secara parsial. Semua pihak harus bersatu menjaga generasi muda agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika,” ungkapnya.

Kegiatan itu juga dilakukan penandatanganan Kerjasama antara Unimal dan IN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dengan BNN Aceh.[]


Kirim Komentar