
UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Budaya literasi tidak cukup hanya dimaknai sebagai kebiasaan membaca, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat. Semangat inilah yang diusung dalam Workshop Literasi bertajuk “Dari Buku untuk Masa Depanku: Literasi Kritis dan Produksi Esai Ilmiah Populer di Era Disinformasi” yang digelar di Ruang Serbaguna Lantai 3 Perpustakaan Universitas Malikussaleh (Unimal), Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Duta Baca Unimal bersama Komunitas Ruang Aksara tersebut menghadirkan dua Duta Baca Unimal Kategori Dosen 2025, yakni Teuku Muzaffarsyah M.AP, dan Ir. Nanda Savira Ersa MT. Workshop dipandu oleh Nora Hanifa selaku Wakil I Duta Baca Unimal 2025.
Workshop ini diikuti mahasiswa dari berbagai fakultas yang antusias mendalami pentingnya literasi kritis di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap dibanjiri hoaks dan disinformasi. Selain memperoleh pemahaman mengenai budaya baca, peserta juga mendapatkan pelatihan praktis dalam menyusun esai ilmiah populer berbasis data dan argumentasi yang kuat.
Ketua Umum Komunitas Ruang Aksara, Muhammad Haikal, menyampaikan bahwa literasi saat ini tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis.
“Literasi adalah kemampuan memahami, mengkritisi, dan menghasilkan gagasan yang mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Di tengah banjir informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.
Haikal menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya workshop tersebut.
“Melalui workshop literasi ini, saya ingin mengajak teman-teman menjadikan literasi bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi sebuah gaya hidup. Melalui Ruang Aksara dan gerakan Duta Baca, pintu kami selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, berproses, dan berkarya bersama. Harapannya, setelah keluar dari ruangan ini, kita semua membawa semangat baru untuk terus menghidupkan budaya literasi di lingkungan masing-masing,” sebutnya
Sementara itu, Teuku Muzaffarsyah menyampaikan bahwa membangun budaya literasi merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika, bukan hanya perpustakaan maupun dosen.
“Budaya literasi bukan hanya tugas perpustakaan atau dosen, tetapi tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika. Kampus yang kuat adalah kampus yang seluruh warganya gemar membaca, berpikir kritis, dan terus belajar sepanjang hayat,” tuturnya.
Dalam sesi pemaparannya, Teuku Muzaffarsyah mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku-buku berdebu, melainkan ruang belajar yang dinamis untuk membangun wawasan, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Ia juga menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda di era disinformasi, termasuk fenomena penyebaran hoaks yang semakin cepat melalui media sosial. Untuk menghadapi kondisi tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep literasi kritis dan metode verifikasi informasi yang dapat digunakan sebelum menerima atau menyebarkan sebuah informasi.
Selanjutnya, Nanda Savira Ersa membahas pentingnya menjadikan aktivitas membaca sebagai fondasi dalam menghasilkan karya tulis yang berkualitas. Ia memandu peserta memahami tahapan penyusunan esai ilmiah populer, mulai dari menentukan topik, melakukan riset, menyusun kerangka tulisan, hingga mengembangkan argumen yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Suasana workshop berlangsung interaktif. Di sela kegiatan, peserta mengikuti sesi pembacaan puisi, diskusi, serta berbagai ice breaking yang membuat suasana tetap hidup dan komunikatif. Peserta juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan langsung proses penulisan esai secara bertahap dengan pendampingan dari narasumber.
Pada akhir kegiatan, kedua pemateri berharap para peserta tidak hanya menjadi pembaca yang aktif, tetapi juga mampu menjadi penulis yang bertanggung jawab dan berkontribusi dalam menyebarkan informasi yang akurat di ruang publik.[]