Mahasiswa Akuntansi Unimal Kembangkan RAMBUTEA SKIN

SHARE:  

Humas Unimal
Ahmad Tomi, Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Malikussaleh. Foto: Ist.

UNIMALNEWS | Lhokseumawe — Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Malikussaleh menghadirkan inovasi bisnis RAMBUTEA SKIN, sebuah produk dry wash-off mask yang memanfaatkan kulit rambutan Binjai sebagai bahan utama. 

Mengusung tagline “Pure Skin, Nature’s Touch”, inovasi ini memadukan pemanfaatan potensi lokal, konsep upcycling, dan kepedulian terhadap lingkungan.

RAMBUTEA SKIN dikembangkan oleh Ahmad Tomi, bersama timnya, sebagai gagasan bisnis yang berangkat dari persoalan limbah kulit rambutan. 

"Selama ini, kulit rambutan umumnya hanya menjadi limbah setelah buahnya dikonsumsi. Melihat adanya potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal, tim mencoba mengolahnya menjadi bahan bernilai tambah dalam produk skincare," ungkap Ahmad Tomi  melalui rilis yang diterima Unimalnews, Minggu (14/9/2026).

Ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi masker wajah berbentuk bubuk atau dry wash-off mask. "Kulit rambutan (Nephelium lappaceum L.) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid dan geraniin yang memiliki potensi aktivitas antioksidan. Potensi tersebut kemudian dipadukan dengan teh hijau yang mengandung EGCG serta clay sebagai bahan dasar masker," jelasnya.

Menurut Ahmad Tomi, RAMBUTEA SKIN tidak hanya dirancang sebagai produk kecantikan, tetapi juga sebagai bentuk pemanfaatan limbah yang dapat memberikan nilai ekonomi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata bisa menjadi sumber inovasi. Melalui RAMBUTEA SKIN, kami mencoba mengubah limbah kulit rambutan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa konsep keberlanjutan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, konsep upcycled skincare menjadi salah satu identitas utama RAMBUTEA SKIN. "Pemanfaatan kulit rambutan Binjai diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap bahan lokal sekaligus memperkenalkan potensi daerah melalui produk yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda," terangnya.

Kata Ahmad, selain mengangkat bahan lokal, RAMBUTEA SKIN juga dirancang dengan mempertimbangkan gaya hidup konsumen masa kini. "Bentuk bubuk membuat produk lebih praktis dan ringan dalam distribusi serta mendukung konsep waterless skincare," katanya.

Target pasar RAMBUTEA SKIN adalah Gen Z dan pekerja muda berusia 18–28 tahun yang memiliki perhatian terhadap perawatan kulit dan isu lingkungan. 

"Strategi pemasaran dirancang melalui platform digital seperti TikTok Shop, Shopee, dan Tokopedia, serta melalui toko oleh-oleh dan salon kecantikan lokal," tambahnya.

Dari sisi bisnis, RAMBUTEA SKIN menargetkan penjualan 1.000 kemasan per bulan dengan harga jual Rp25.000 per kemasan. Berdasarkan proyeksi bisnis, angka tersebut berpotensi menghasilkan omzet sekitar Rp25 juta per bulan dan estimasi laba bersih sekitar Rp11 juta per bulan.

"Ke depan, RAMBUTEA SKIN diharapkan dapat terus dikembangkan dari sebuah gagasan bisnis menjadi produk yang memiliki daya saing dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun lingkungan," tutupnya. []


Berita Lainnya

Kirim Komentar