Menenun Gagasan dari Proses: Langkah Nazwa Salsabila Menuju Puncak Pilmapres Unimal 2026

SHARE:  

Humas Unimal
Nazwa Salsabila

TANGGAL 9 April 2026 menjadi satu dari sekian momen yang akan selalu dikenang oleh Nazwa Salsabila. Di hari itu, mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malikussaleh berdiri di antara tujuh finalis terbaik dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat universitas. Mereka datang dengan latar belakang, capaian, dan gagasan yang beragam membawa harapan yang sama yaitu menjadi yang terbaik.

Di tengah atmosfer kompetisi yang sarat dinamika, Nazwa tampil dengan ketenangan yang tidak muncul begitu saja. Ia telah melewati proses panjang, mulai dari penyusunan berkas, perumusan gagasan kreatif, hingga menghadapi sesi presentasi dan wawancara yang menguji tidak hanya kapasitas akademik, tetapi juga keteguhan diri.

Hasilnya, Nazwa dinobatkan sebagai Juara 1 Pilmapres Universitas Malikussaleh 2026.

Namun, bagi Nazwa, kemenangan ini bukanlah garis akhir. Justru, ini adalah pintu awal dari perjalanan yang lebih luas. Ia tidak hanya membawa pulang gelar juara, tetapi juga sebuah gagasan yang ia yakini memiliki potensi untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Langkah Nazwa menuju titik ini bukanlah perjalanan yang instan. Setahun sebelumnya, pada Pilmapres 2025, ia sempat berada di posisi Juara Harapan 2. Pengalaman itu menjadi titik refleksi yang penting. Dari sana, ia belajar memahami ritme kompetisi, mengenali kekuatan dan kelemahan diri, serta menyusun langkah yang lebih terarah.

“Proses tidak selalu langsung membawa hasil terbaik, tetapi selalu memberi arah,” menjadi prinsip yang ia pegang sejak saat itu.

Memasuki Pilmapres 2026, Nazwa hadir dengan kesiapan yang lebih matang. Ia tidak hanya memperkuat aspek teknis, tetapi juga memperdalam substansi gagasan yang diusung. Dalam kompetisi kali ini, ia mengangkat ide bertajuk Malikussaleh Multiliteracy Legacy (M2L): Merancang Multiliterasi Mahasiswa sebagai Katalis Aksi Sosial Lingkungan di Aceh Utara.

Gagasan tersebut lahir dari kegelisahannya melihat persoalan literasi dan lingkungan yang masih menjadi tantangan di daerahnya. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu menjadi jembatan informasi antara masyarakat dan perkembangan global.

Ia melihat bahwa isu lingkungan di Aceh Utara tidak berdiri sendiri. Ada persoalan literasi yang turut memengaruhi—mulai dari keterbatasan akses informasi hingga cara penyampaian yang belum efektif. Dari situlah ia merancang konsep multiliterasi yang mengintegrasikan kemampuan bahasa, literasi digital, dan pemahaman lingkungan dalam satu pendekatan yang saling terhubung.

Bagi Nazwa, M2L bukan sekadar ide untuk memenangkan kompetisi. Ia berharap gagasan tersebut dapat berkembang menjadi gerakan nyata, dengan mahasiswa sebagai motor penggeraknya.

Di luar Pilmapres, Nazwa dikenal sebagai sosok yang aktif dan konsisten dalam berbagai kegiatan. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua English Club of Law UNIMAL periode 2025–2026, serta Sekretaris UKM Lingua Verse UNIMAL. Keterlibatannya dalam organisasi menjadi ruang bagi dirinya untuk mengasah kepemimpinan sekaligus memperluas jejaring.

Rekam jejak prestasinya di bidang kompetisi juga menunjukkan konsistensi. Ia pernah meraih Juara 1 Constitutional Debate pada Legal Discourse Competition 2024, Juara 1 Islamic English Debate MTQM Unimal 2025, serta Juara 2 National Debate Competition FKIP Unimal 2024. Bahkan, ia turut mewakili kampus dalam National University Debating Championship (NUDC) tingkat regional LLDIKTI 13 dan berhasil meraih posisi keempat.

Tidak berhenti di tingkat nasional, Nazwa juga aktif dalam forum internasional. Ia pernah berperan sebagai interpreter dan moderator dalam Malikussaleh International Conference of Law Legal Studies, serta terlibat dalam berbagai kegiatan global seperti International Student Community Engagement dan UMAP Discovery Camp. Pengalaman tersebut memperkaya cara pandangnya, terutama dalam melihat persoalan lokal dengan perspektif yang lebih luas.

Meski memiliki banyak capaian, Nazwa tetap memaknai setiap langkah sebagai proses belajar. Baginya, setiap kesempatan adalah ruang untuk bertumbuh—baik dalam memahami diri sendiri maupun dalam menemukan cara terbaik untuk memberi kontribusi.

Dalam Pilmapres, ia tidak hanya diuji dari sisi akademik, tetapi juga dari kemampuan berpikir kritis, menyampaikan ide secara sistematis, serta menjaga konsistensi antara gagasan dan tindakan. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya hari ini.

Kemenangan yang diraih tentu menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi lingkungan yang selama ini mendukungnya. Namun, Nazwa tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut. Ia ingin melangkah lebih jauh mengembangkan gagasannya, memperluas dampaknya, dan terus terlibat dalam upaya-upaya kecil yang membawa perubahan.

Pilmapres mungkin telah usai. Tetapi bagi Nazwa Salsabila, perjalanan masih panjang. Dan dari setiap langkah yang ia ambil, terlihat bahwa ia tidak sekadar berjalan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih besar: menghadirkan perubahan, melalui gagasan yang lahir dari proses.[]


Berita Lainnya

Kirim Komentar