Mahasiswa Akuntansi Unimal Raih Juara 1 Esai Nasional Psychovibes 3.0, Usung Boneka Terapi Trauma Anak Korban Banjir

SHARE:  

Humas Unimal
Mahasiswa Akuntansi Unimal Raih Juara 1 Esai Nasional Psychovibes 3.0, Usung Boneka Terapi Trauma Anak Korban Banjir

UNIMALNEWS | Lhokseumawe – Kepedulian terhadap kondisi psikologis anak-anak korban banjir di Aceh mengantarkan Wanda Susanti dan Muhammad Rio Hamdani, mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Malikussaleh (Unimal), meraih Juara 1 Lomba Esai Nasional Psychovibes 3.0 Tahun 2026.

Keduanya berhasil mengungguli peserta dari berbagai perguruan tinggi melalui gagasan inovatif bertajuk “NANGGROE-KIDS: Inovasi Boneka Offline-Audio Play Therapy Berbahasa Daerah untuk Meredakan Ketakutan terhadap Hujan (Rain Phobia) dan Gejala Stres Akut Anak Korban Banjir Aceh.”

Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI), Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Unimal, dalam rangkaian Psychovibes 3.0 yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Aula Cut Meutia dan Lapangan DPR Bukit Indah, dan Aula Dekanat Fakultas Kedokteran Kampus Reuleut Aceh Utara. Pada kompetisi yang sama, Universitas Brawijaya meraih Juara 2, sedangkan Universitas Antakusuma menempati posisi Juara 3.

NANGGROE-KIDS lahir dari keprihatinan Wanda dan Rio terhadap dampak banjir yang tidak hanya merusak rumah dan lingkungan, tetapi juga meninggalkan luka psikologis bagi anak-anak. Pengalaman menghadapi banjir dapat membuat sebagian anak merasa takut ketika hujan kembali turun karena mengingatkan mereka pada peristiwa traumatis yang pernah dialami.

Wanda mengatakan, gagasan tersebut berangkat dari kepedulian mereka sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Aceh dan turut merasakan dampak bencana yang melanda wilayah tersebut.

“Banjir beberapa waktu lalu meninggalkan dampak yang tidak hanya terlihat dari rumah yang rusak. Sering kali anak-anak yang terdampak juga mengalami guncangan psikologis, seperti trauma ketika mendengar hujan kembali turun. Kami merasa pemulihan mereka perlu mendapat perhatian. Karena itu, kami ingin merancang media sederhana yang bisa membantu mereka merasa aman kembali,” katanya.

NANGGROE-KIDS dirancang sebagai media pendampingan psikologis berbentuk boneka bernama Si Nanggroe. Boneka ini dilengkapi audio berbahasa Aceh yang memuat hikayat, pantun, lagu, dan panduan latihan pernapasan untuk membantu anak merasa lebih tenang.

Pemanfaatan bahasa daerah menjadi salah satu unsur penting dalam inovasi tersebut. Selain mendekatkan media dengan keseharian anak-anak Aceh, pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih akrab dan nyaman bagi mereka saat menjalani proses pemulihan.

Dalam konsep yang ditawarkan, Si Nanggroe berperan sebagai objek transisi yang dapat memberikan rasa aman bagi anak. Seluruh konten audio juga dapat diakses tanpa koneksi internet sehingga berpotensi digunakan di lingkungan dengan keterbatasan jaringan, termasuk lokasi pengungsian pascabencana.

Satu sesi permainan dirancang berlangsung selama 15–20 menit. Anak-anak diajak berinteraksi dengan permainan dan memilih alur cerita sehingga memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan selama kegiatan berlangsung.

Suara hujan diperkenalkan dengan volume sangat rendah, kemudian ditingkatkan secara bertahap pada sesi berikutnya. Pendekatan ini dirancang agar anak dapat belajar menghadapi suara hujan dalam suasana yang terkendali dan aman, tanpa harus langsung berhadapan dengan pemicu ketakutannya secara intens.

Meski demikian, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak dan didampingi fasilitator, seperti orang tua, guru, atau relawan. Anak-anak yang mengalami gejala berat atau berkepanjangan tetap perlu mendapatkan pemeriksaan dan bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental.

Muhammad Rio Hamdani menjelaskan bahwa rancangan NANGGROE-KIDS mempertimbangkan kebutuhan anak-anak di lingkungan pengungsian, termasuk keterbatasan akses internet dan pentingnya menjaga privasi pengguna.

“Boneka ini tidak memiliki layar dan mikrofon, jadi tidak ada suara anak yang direkam. Ada tombol ‘Aman’ di telapak tangan yang bisa ditekan anak kapan saja untuk menghentikan audio. Tombol pilihan ceritanya dibedakan warna dan bentuk agar anak yang belum bisa membaca tetap bisa memakainya. Baterainya isi ulang dengan daya tahan sekitar 8 sampai 12 jam,” kata Rio.

Fitur tombol penghenti audio memberikan kesempatan kepada anak untuk menghentikan permainan ketika merasa tidak nyaman. Sementara itu, tombol pilihan cerita dengan warna dan bentuk berbeda dirancang agar lebih mudah digunakan oleh anak yang belum lancar membaca.

Rancangan tanpa layar juga membuat interaksi berpusat pada permainan dan suara, bukan pada perangkat digital yang harus terus ditatap. Dengan demikian, NANGGROE-KIDS menawarkan pendekatan yang memadukan permainan, cerita rakyat, bahasa daerah, dan latihan relaksasi dalam satu media sederhana.

Rio menegaskan bahwa inovasi tersebut bukan pengganti terapi klinis. Konsep NANGGROE-KIDS masih memerlukan penelitian dan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui keamanan, efektivitas, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan anak-anak penyintas bencana sebelum diterapkan secara luas.

Ke depan, konten boneka tersebut berpeluang dikembangkan menggunakan bahasa daerah lain, seperti bahasa Gayo, serta disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak yang terdampak jenis bencana berbeda.

“Setiap anak berhak merasa aman, meski trauma masih membayang,” tutupnya.[]


Berita Lainnya

Kirim Komentar