Kajian Literasi Digital: Platform Blockchain dan Cryptocurrency

SHARE:  

Humas Unimal
Kajian Mingguan Ilmu Komunikasi yang digelar Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, membahas tentang literasi digital di sosmed berbasis teknologi digital, Selasa (22/6/2021). Foto: Kurniawati.

PLATFORM media sosial berbasis teknologi blockchain dan cryptocurrency menjadi peluang sekaligus tantangan dalam mengembangkan budaya literasi dan kreativitas sekaligus menjadi sumber ekonomi baru di masa mendatang. Keandalan teknologi blockchain dalam berbagai bidang kehidupan akan menjadi pilihan di masa mendatang sehingga generasi muda harus menguasai teknologi tersebut.

Sekarang ini banyak bermunculan media sosial berbasis teknologi blockchain yang memberikan reward kepada pengguna dalam bentuk cryptocurrency atau mata uang kripto.  Namun, para pengguna harus lebih selektif menggunakan platform tersebut agar bisa merasakan dampak berganda dari aspek pendidikan, teknologi, serta ekonomi dalam jangka panjang.

“Dua platform yang sudah teruji memberikan manfaat ganda bagi penggunanya adalah Steemit dan Hive. Di platform ini, pengguna bisa mengembangkan passion, memperkuat budaya literasi, mencari sahabat dari berbagai negara, serta mendapatkan benefit dalam bentuk cryptocurrency,” ungkap dosen Universitas Malikussaleh, Ayi Jufridar MSM, dalam Kajian Mingguan Ilmu Komunikasi yang digelar Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himako) Universitas Malikussaleh, Selasa, 22 Juni 2021.

Ayi Jufridar yang juga mendirikan Komunitas #SteemLiteracy di Steemit, memaparkan sejumlah keuntungan yang bisa diperoleh bagi pengguna platform media sosial berbasis teknologi blockchain. Keuntungan tersebut bukan saja dalam bentuk reward cryptocurrency seperti Steem, SBD, dan Tron atau Hive dan Hive Dollar, melainkan aspek penting lainnya seperti menjadi pusat dokumen yang andal karena menggunakan teknologi blockchain, memperkuat budaya literasi, mengembangkan bakat, mencari berbagai informasi terutama terkait cryptocurrency, sampai memperjuang jaringan persahabatan dari berbagai negara.

“Saya terhubung kembali dengan sahabat lama setelah aktif di platform digital dan mendapatkan sahabat baru. Keuntungan itu lebih luas dibandingkan dengan reward dalam bentuk cryptocurrency, meski harus diakui benefit ekonomi juga bagian penting,” papar Ayi Jufridar dalam webinar yang dipandu Dayana Indah Parwansyah, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai kota, termasuk dari Surabaya, Jawa Timur. Sebagian peserta adalah mahasiswa, tetapi ada juga dosen dan pengguna akun Steemit dan Hive, baik yang masih aktif maupun yang sudah lama tidak membuat postingan. Beberapa dosen yang ikut antara lain Dr Dahlan Abdullah, Ketua Program Magister Teknologi Informasi Universitas Malikussaleh yang juga seorang Steemian.

Selain itu, juga ada dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Herinawati MA, Muhammad Ali M Si, Juni Akhyar MPd, Teuku Azhari M Ed, dan beberapa yang lain.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, Kamaruddin Hasan M Si, mengatakan perkembangan teknologi komunikasi demikian cepat di era “post-truth” yang tidak diimbangi dengan kecerdasan literasi sehingga hoaks, penipuan, ketidakjujuran, dan pelanggaran etika berkembang di media sosial.

“Ranah digital dapat membuka ruang demokrasi, pluralisme, dan multikulturalisme secara global serta menghubungkan orang-orang agar suara mereka didengar.  Di sisi lain medsos dapat menjadi ancaman bagi demokrasi, pluralism, dan multikulturalisme,” papar Kamaruddin.

Menurutnya, dunia semakin bergantung kepada teknologi digital karena hampir semua sendi kehidupan dan bisnis memanfaatkannya. Transformasi digital adalah pintu masuk terjadinya perubahan. “Manusia adalah agen perubahan dalam dunia budaya digital. Keunggulan digital telah menjadi kekuatan baru yang memungkinkan terjadinya kolaborasi, fleksibilitas, dan profit sharing,” lanjut Kamaruddin.

Ia mendorong mahasiswa agar “melek digital” sehingga menjadi pribadi yang paham, berpengetahuan luas, mampu menganalisis, menilai, dan mampu  berpendapat secara kritis atas informasi atau pesan media.

Sementara Sazaliza, seorang Steemian, mempertanyakan tampilan Steemit yang sudah banyak berubah dalam setahun terakhir, termasuk postingan bagi pendatang baru yang dikeluhkan beberapa orang. “Kalau dulu ingin membuat postingan, bisa langsung saja, tidak perlu ada achievements,” kata Sazaliza yang juga seorang PNS di Aceh Utara.

Harinawati mengharapkan kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pembuatan akun Steemit bagi para mahasiswa dan dosen. “Ke depan, bisa dibuat pelatihan untuk dosen dan mahasiswa bagaimana membuat akun baru dan akrtif di Steemit sesuai passion masing-masing,” ujar Harinawati. [Kurniawati]

Baca juga: Kajian Rutin Himako: Media Sosial Pengaruhi Kehidupan Sosial

 


Berita Lainnya

Kirim Komentar