Juliet, Sebab Hidup tak Melulu Urusan Cinta

SHARE:  

Humas Unimal
Mahasiswa Prodi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh, Cut Oriza Satifa, bersama buku fiksi pertamanya. Foto: Ist.

BISA menjadi mahasiswa di peruguruan tinggi ternama merupakan impian lama Juliet, seorang gadis yang baru saja lulus SMK. Namun, nasibnya tidak seberuntung rekan-rekannya yang bisa langsung duduk di bangku kuliah. Juliet harus berjuang agar bisa menjadi mahasiswa karena ketiadaan biaya. Ia harus mengumpulkan rupiah dengan bekerja membuat kue di sebuah tempat usaha orang lain.

Namun, di sanalah masalah bermula karena pemilik usaha itu jatuh cinta kepadanya sehingga Juliet akhirnya memilih keluar. Kejadian itu menjadi titik awal kebangkitan Juliet untuk menjadi orang sukses. Ia memutuskan untuk memulai usaha membuat kue, sebab itulah keterampilan yang ia miliki.

Perjuangan Juliet mewujudkan mimpi itulah yang menjadi konflik utama novel Juliet yang ditulis Cut Oriza Satifa, mahasiswi Prodi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Buku fiksi itu seolah mewakili banyak generasi muda yang ingin menjadi orang sukses melalui bangku kuliah. Banyak anak muda yang harus berjuang keras agar bisa menyandang predikat mahasiswa, sehingga ketika mimpi itu terwujud, harus dimanfaatkan dengan baik dan penuh syukur, bukan malah menyiakan kesempatan baik itu dengan aksi tak terpuji.

Novel Juliet terinspirasi dari kisah nyata seseorang yang membuat Cut Oriza ingin memolesnya menjadi sebuah tulisan motivasi yang menginspirasi anak muda. Melalui tokoh Juliet, Cut Oriza ingin mengingatkan generasi muda tentang pentingnya nilai perjuangan membahagiakan orang dan tidak melulu mengurusi cinta yang bisa jadi akan disesali di masa mendatang.

“Perjuangan yang dilewati Juliet dalam meraih cita-cita, yakni ingin berkuliah di universitas terbaik. Tapi mimpi itu terkubur setelah Juliet membangun usaha sendiri,” ungkap Cut Oriza, Selasa, 7 September 2021.  

Gadis kelahiran Aceh, 9 Desember 1998 itu terbilang cepat dalam menyelesaikan Juliet karena hanya membutuhkan waktu dua mingguan. “Saya sedikit ngebut karena didesak penerbit,” ungkap Cut Oriza. Ia mengaku nyaris tidak mengalami hambatan apa pun dalam menyelesaikan Juliet, kecuali hambatan normatif yang sering dialami para penulis seperti mengalami kebuntuan dari ide tetapi ia mampu mengatasinya.

Juliet sebenarnya bisa lebih dari 200 halaman, tetapi karena akhirnya menjadi 100 halaman karena adanya batasan dari penerbit Guepedia.  

Cut Oriza Satifa sudah menggeluti dunia tulis-menulis sejak berusia 11 tahun. Ketika menjadi siswa di sebuah SMK di Lhokseumawe, bakat menulisnya semakin mendapat tempat ketika menjadi ketua majalah dinding (mading). Tidak hanya menulis dan membaca, Oriza juga mengikuti kegiatan seni lainnya seperti teater, tarik suara, sampai membaca puisi.  

Pertengahan 2020 lalu, Cut Oriza mendapatkan kesempatan mengasah bakat menulisnya. Ia mengikuti lomba Gramedia Writer Projects yang diselenggarakan Gramedia Pustaka Utama. “Namun apalah daya, tangan tak sampai menyentuh langit, saya gagal meraih kemenangan,” lanjutnya tersenyum.

Namun, kegagalan itu tidak membuatnya patah. Ia terus mengasah keterampilan menulis dan membaca banyak buku. Kejutan itu pada Juni 2020 lalu, ketika novel Juliet lolos seleksi dari penerbit Guepedia, salah satu penerbit semi mayor. “Novel pertama itu lahir dalam wujud menyempurnakan mimpi saya,” ujar Cut Oriza.

Harapannya menulis novel tersebut agar anak muda di zaman sekarang tidak terus menerus galau pada persoalan cinta. Anak muda tidak akan dikatakan sukses, bagi Cut Oriza, sebelum mampu membahagiakan kedua orang tua dan menghargai dirinya sendiri. Karakter yang kuat dari seorang Juliet melambangkan ketangguhan anak muda yang mesti siap mendobrak kesulitan dengan keyakinan serta ambisi kuat.

Bagi Cut Oriza, mengarungi kehidupan tidak hanya dengan menjadi baik untuk orang lain. “Tapi dengan menjadi baik untuk diri sendiri, menerima segala kekurangan dari diri kita, ini telah menjadikan kita makhluk yang mampu menghargai segala bentuk ciptaan Allah,” pesan Oriza seraya mengingatkan anak muda agar jangan pernah mencela diri sendiri sebelum menemukan bakat diri.

Setelah melahirkan satu buku fiksi, Oriza tidak ingin berhenti. Ia berencana melahirkan buku kedua, ketiga, dan seterusnya. Namun, karena sedang fokus menyelesaikan kuliah, kini ia harus disiplin membagi waktu.

“Insya Allah ini sedang dalam proses menulis buku kedua. Anak di Indonesia minat membacanya masih rendah. Maka tugas penulis menyediakan tulisan yang inspiratif dan memberikan edukasi pada perkembangan mereka. Berawal dari membaca biasa, lama-lama remaja Indonesia akan rakus dan tidak kenyang membaca buku,” tutup Cut Oriza. [Ayi Jufridar]

Baca juga: Dari Pandemi, Terbitlah Rindu di Universitas Malikussaleh

 


Berita Lainnya

Kirim Komentar