Menghormati Perbedaan, Kunci Kerukunan di Pusong

SHARE:  

Humas Unimal
Pertemuan pertama Modul Nusantara Kelompok IV Universitas Malikussaleh berlangsung secara daring, Sabtu (11/9/2021). Foto tangkapan layar: Ayi Jufridar.

Kerukunan umat beragama di Desa Pusong Lama Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, Aceh, sudah berlangsung selama puluhan tahun. Kerukunan itu tidak mampu dikoyak konflik bersenjata yang pernah melanda Aceh, sebelum berakhir dengan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005. Di tengah konflik berkecamuk, masyarakat tetap bisa menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing.

“Masyarakat di sana sangat menghormati perbedaan. Sejak kecil kami sudah melihat perbedaan itu bukan sebuah masalah. Perbedaan itu tidak sampai mengganggu kerukunan,” ungkap putra asli Pusong Lama, Dicky Saputra ketika menjadi narasumber Modul Nusantara Kelompok IV Universitas Malikussaleh, Sabtu (11/9/2021).

Dicky yang lahir dan besar di Pusong Lama mengungkapkan, sebagian besar generasi muda seusianya dan beberapa tahun di atas dan di bawahnya, lahir dari bidan sama, yakni Rosita Barus yang juga pengurus di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kota Lhokseumawe. “Bisa dikatakan, sebagian besar anak muda di Pusong waktu itu lahir di tangan Ibu Rosita,” kenang Dicky yang sekarang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Lhokseumawe dari Partai Keadilan Sejahtera.

Jasa bidan Rosita Barus dalam membantu persalinan ibu-ibu di Pusong dan sekitarnya tanpa melihat perbedaan suku, agama, ras, dan adat kebudayaan, melahirkan hubungan emosional yang kuat. Banyak warga miskin yang dibantu, kemudian membayar jasa bidan Rosita ketika panen tiba. “Jadi sudah seperti hubungan keluarga saja,” tambah Dicky.

Pusong memang sudah dinobatkan sebagai Gampong Sadar Kerukunan Beragama di Kota Lhokseumawe pada 17 Desember 2019 lalu. Penobatan itu bukan sekadar formalitas. Di sana terdapat berbagai rumah ibadah selama puluhan tahun dan tidak pernah ada gesekan. Warga saling menghormati keyakinan masing-masing umat beragama.

Di Jalan Sukaramai, terdapat Gereja Methodist Indonesia, gereja HKBP, dan Vihara Budhha Tirta. Sekitar 400 meter ke arah timur, berdiri Masjid Pusong di tengah pemukiman padat penduduk. Sementara di sebelah utara, di antara deretan pertokoan, berdiri gereja Katolik.

Para pemeluk agamanya bebas menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Kerukunan tersebut diakui para tokoh dari setiap agama. Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Lhokseumawe, Tgk Ramli M Kom I, menyebutkan Pusong merupakan salah satu contoh kerukunan yang ada  di Aceh. “Ini merupakan model kerukunan antarumat beragama di Aceh yang menerapkan syariat Islam,” katanya.

Sementara pemeluk Budha di Lhokseumawe, Bestari, mengaku sudah lama menetap di Lhokseumawe dan tidak pernah terjadi benturan. Ia menilai kehidupan beragama di Lhokseumawe sangat baik. “Di situ ada gereja, vihara, juga masjid. Orang-orang di sekitar situ sangat toleran, baik sekali,” ungkap Bestari kepada RRI Lhokseumawe, akhir 2019 silam.

Perwakilan pemeluk Kristen yang tergabung dalam FKUB Lhokseumawe, Betty Manurung, juga mengaku sudah lama tinggal di Lhokseumawe dan merasa nyaman menjalankan ibadah. Hal serupa juga diakui pemeluk agama lain. Warga sekitar bahkan ikut mengamankan rumah ibadah ketika ada kerusahan bernuansa agama di daerah lain.

Ketua Nahdlatul Ulama Kota Lhokseumawe, Tgk Muhammad Rizwan Haji Ali, menyebutkan kerukunan di Pusong bisa menjadi model bagi daerah lain, apalagi dengan predikat Aceh sebagai daerah syariat Islam serta bekas daerah konflik bersenjata bernuansa politik. “Di tengah kecamuk konflik, warga tetap bisa rukun,” ujarnya.

Pusong Lama termasuk salah satu desa nelayan di pinggiran Kota Lhokseumawe yang sangat heterogen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lhokseumawe sebagai dikutip Kompas.com, warga Lhokseumawe sebagian besar menganut agama Islam sebanyak 203.783 jiwa, penganut Budha 718 jiwa, dan Katolik 185 jiwa.

Pertemuan pertama Modul Nusantara Kelompok IV Universitas Malikussaleh membahas kebinekaan dengan mengambil contoh Gampong (desa) Pusong Lama. Mahasiswa di Kelompok IV berjumlah 20 orang dari berbagai universitas di Indonesia. Mereka adalah Yusuf Awaluddin, Elin Atikah, Amalia Lusiyana, Jihad Wildan Ihwanushofa, Mellyana Putri Ayu Wandari, Nurul Amaliah, dan Melanda Oktaviani dari Universitas Negeri Semarang.

Kemudian Claudia Elizabeth Putri Sukamto dan Debby Caroline (Universitas Negeri Surabaya), Anita Dwi Wahyuni dan Choirunnisa Hasna (Universitas Muhammadiyah Semarang), Ramadhanif Adji Fajri’an dan Fitrah Dina Karisma (Universitas Jenderal Soedirman), dan Stephanie Edwina dari Universitas Gadjah Mada.

Selanjutnya, Ayu Anggraini dari Universitas Pamulang, Muhammad Ripin dan Yuni Listiawati (Universitas Madura), Karina Febiola Lutfiansyah dari Universitas  Jember, Luis Wijaya Kusuma dari Universitas Islam Malang, serta Annisya Devi Safitri dari Universitas Muhamadiyah Magelang. Kelompok IV Modul Nusantara Universitas Malikussaleh diasuh dosen Jufridar MSM, dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Dalam pertemuan yang dihadiri 15 mahasiswa tersebut, semua peserta mengungkapkan harapannya agar perkuliahan Modul Nusantara bisa digelar secara tatap muka agar lebih mengenal budaya di Aceh. “Saya ingin belajar tentang budaya masyarakat Aceh,” ujar Karina Febiola Lutfiansyah, mahasiswa semester tiga di Prodi Pendidikan Guru dan Pendidikan Anak Usia Dini yang belum pernah melihat kampusnya karena perkuliahan digelar secara daring selama pandemi Covid-19.

Pengakuan senada disampai semua mahasiswa yang hadir. Mereka mengharapkan bisa segera ke Aceh untuk melihat dan menikmati indahnya keberagaman di Tanah Rencong. [Ayi Jufridar]


Berita Lainnya

Kirim Komentar