
UNIMALNEWS | Krueng Geukueh – Semangat menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini hadir di Desa Tingkeum, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara. Melalui kegiatan Talkshow dan Perpustakaan Keliling bertema “Jelajah Dunia Literasi: Membangun Budaya Membaca Sejak Dini”, anak-anak diajak mengenal literasi dengan cara yang lebih dekat, menarik, dan menyenangkan.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (9/8/2026) tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan pentingnya literasi dan budaya membaca kepada masyarakat, khususnya anak-anak.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh KKN-PPM Kelompok 02 Universitas Malikussaleh (Unimal) dengan menghadirkan talkshow bersama Kepala Perpustakaan UIN Sultanah Nahrasiyah, Nurjanah. Kegiatan juga didukung layanan perpustakaan keliling dari Tim Perpustakaan Aceh Utara.
Selain itu, turut hadir Kepala Perpustakaan Desa Tingkeum dan anggota Forum Anak Pase Aceh Utara. Kehadiran berbagai pihak tersebut memperkaya kegiatan literasi sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan beragam koleksi bacaan.
Perwakilan KKN-PPM Kelompok 02 Unimal, M. Faiz Nur Elzam, mengatakan membaca memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan mengenali huruf dan kata.
Menurutnya, membaca merupakan salah satu cara bagi anak-anak untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Karena itu, kegiatan literasi diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus semangat anak untuk terus belajar.
“Membaca bukan cuma sekadar mengenal huruf dan kata-kata, tetapi juga untuk menambah wawasan. Semoga melalui kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa ingin belajar dan memperluas wawasan adik-adik sekalian,” tuturnya.
Dalam sesi talkshow, Nurjanah menyampaikan pentingnya mengenalkan literasi kepada anak sejak usia dini, terutama bagi siswa sekolah dasar.
Ia menjelaskan, pengenalan literasi tidak harus selalu dilakukan melalui buku maupun tulisan. Literasi dapat dikemas melalui berbagai media yang dekat dengan kehidupan anak sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
“Literasi tidak hanya dikenalkan dalam bentuk tulisan atau gambar, tetapi juga bisa melalui media lain seperti pemandangan sekitar dan berbagai media yang menarik bagi anak,” jelasnya.
Menurut Nurjanah, membangun budaya literasi bukan sekadar mengajarkan anak membaca. Lebih dari itu, anak perlu dibimbing agar mampu memahami pentingnya memilih, menyerap, dan menggunakan ilmu yang diperoleh dari aktivitas membaca.
Ia menyebutkan terdapat tiga lingkungan utama yang memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan membaca anak, yakni sekolah, rumah, dan masyarakat.
Ketiga lingkungan tersebut dinilai perlu berjalan bersama agar kebiasaan membaca tidak berhenti sebagai aktivitas di sekolah, tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan anak sehari-hari.
Membaca, kata Nurjanah, memberikan banyak manfaat bagi perkembangan anak. Selain menambah pengetahuan, kebiasaan membaca juga dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri serta menjadi salah satu bekal untuk meraih kesuksesan.
Nurjanah juga menegaskan bahwa budaya lahir dari kebiasaan. Karena itu, kebiasaan membaca perlu ditanamkan secara konsisten sejak usia dini.
Jika aktivitas membaca terus dilakukan dan dibiasakan, maka secara perlahan membaca dapat berkembang menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Pesan tersebut kemudian diperkuat dengan kehadiran perpustakaan keliling dalam kegiatan. Anak-anak tidak hanya mendengarkan materi talkshow, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dengan berbagai jenis buku yang tersedia.
Kehadiran perpustakaan keliling membuat suasana kegiatan menjadi lebih interaktif. Anak-anak dapat memilih bacaan yang mereka sukai dan menjadikan buku sebagai sesuatu yang dekat dengan keseharian mereka.[]