
UNIMALNEWS | Kuta Makmur - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh (Unimal) Kelompok 50 membekali siswa SDN 5 Kuta Makmur, Desa Blang Talon, Kecamatan Kuta Makmur, dengan pengetahuan menghadapi bencana gempa bumi. Edukasi mitigasi bencana tersebut berlangsung Senin (10/8/2026) dan diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 6.
Kegiatan ini digelar untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai gempa bumi sekaligus mengenalkan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.
Materi disampaikan mahasiswa KKN Kelompok 50, Virna Ardhita dan Ulya Suhaila Umri, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman siswa. Agar lebih mudah dipahami, penyampaian materi dikemas secara sederhana dan interaktif melalui media visual, tanya jawab, serta simulasi contoh tindakan yang dapat dilakukan saat terjadi gempa.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diberikan kesempatan menjawab pertanyaan dan mempraktikkan sejumlah tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi gempa.
Ketua KKN Kelompok 50, Rizki Perdana, mengatakan edukasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman mengenai gempa, tetapi juga membekali anak-anak dengan pengetahuan praktis untuk menghadapi situasi darurat.
“Lewat kegiatan ini, kami ingin anak-anak tidak hanya tahu apa itu gempa, tetapi juga tahu apa yang harus mereka lakukan ketika gempa benar-benar terjadi. Kami mencoba menyampaikan materi dengan cara yang sederhana dan sesuai dengan usia mereka, supaya mudah dipahami dan diingat,” katanya.
Menurut Rizki, pengenalan mitigasi bencana kepada anak-anak penting dilakukan sejak dini. Pengetahuan yang diberikan di lingkungan sekolah diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk lebih siap dan tidak panik ketika menghadapi kondisi darurat.
Pihak SDN 5 Kuta Makmur turut mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN tersebut. Kepala sekolah, Muhammad Yusuf Hanafi, mengatakan materi mitigasi bencana yang diberikan mahasiswa cukup mudah dipahami karena disampaikan dengan cara sederhana dan menarik.
“Anak-anak juga terlihat antusias mengikuti kegiatan dan aktif ketika diberikan pertanyaan maupun contoh tindakan yang harus dilakukan saat terjadi gempa,” ungkapnya.[]