Warisan “Pemikiran Agama” Soedjatmoko

SHARE:  

Humas Unimal
Soedjatmoko muda bersama Sutan Sjahrir, Agus Salim, dan intelektual muda revolusioner Indonesia awal kemerdekaan. Sumber foto : tempo.co

Teuku Kemal Fasya

Pada 29 September lalu, penulis bersama pemikir dan aktivis keagamaan menjadi pembicara seminar daring “Membaca Soedjatmoko : Beragama dan Berbangsa”. Kegiatan ini rangkaian diskusi membedah pemikiran Prof. Soedjatmoko Mangoediningrat yang dilaksanakan pada tahun ini, bertepatan 100 tahun kelahiran pemikir dan penulis prolifik yang pernah dimiliki Indonesia itu.

Sedianya diskusi akan dibuka oleh keluarga dan ikut disimak oleh sang istri, Ratmini. Namun sakit keras sang istri Soedjatmoko itu menyebabkan tak disaksikan oleh keluarga besar mereka. Waktu kemudian menentukan takdir garis hidup. Ratmini Soedjatmoko binti Sudirman Gandasubrata menghembuskan nafas terakhir, 1 Oktober 2022 pada usia 96 tahun!

 

Seorang universalis dan moralis

Soedjatmoko, atau dikenal dengan panggilan Bung Koko, dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 10 Januari 1922. Ia berasal dari keluarga ningrat Jawa. Meskipun demikian ia tumbuh, berpendidikan, dan berkarir di banyak kota di Indonesia dan belahan dunia sehingga membantunya menjadi penulis dan artikulator problem bangsa Indonesia di forum internasional dengan cukup elegan. Kota Manado, Surabaya, Jakarta, dan Surakarta menjadi persinggahan dan membentuk karakter pemikirannya yang antifeodal.

Sebagai “keluarga bangsawan” ia hampir tidak memiliki hambatan untuk mengembangkan pendidikan, termasuk bahasa, ketika menulis ke dalam bahasa Belanda dan Inggris, selain Indonesia. Jejak tulisannya yang berhasil didokumentasikan sejak 1948 hingga di menit terakhir kehidupannya, 21 Desember 1989, tidak kurang 300 artikel dan paper. Itu termasuk paper kuliah terakhir di Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY).

Sebagai seorang intelektual, gagasannya teruji dalam tindakan. Ia mendapat kesempatan menjadi seorang diplomat di PBB karena restu Soekarno. Namun ketika sang proklamator itu menjadi semakin otoriter, ia meninggalkan Konstituante dan hijrah ke luar negeri. Soedjatmoko baru kembali ke Indonesia ketika Soekarno digulingkan, dan menjadi bagian yang ikut mendukung rejim awal Soeharto. Beberapa jabatan sempat dipegang termasuk duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat dan penasehat khusus di Bappenas. Namun posisinya tidak pernah stabil. Ia sempat dituduh mengotaki gerakan Malari 1974, sehingga akhirnya memilih eksil, sebagai Rektor  Universitas PBB di Tokyo (1980-1988).

Jika dilihat dari tulisan-tulisannya, Prof. Soedjatmoko lebih tepat disebut sebagai universalis dan moralis. Komitmen perubahan yang dinarasikannya adalah memperbaiki nasib umat manusia dan mendorong Indonesia sebagai bagian dari warga dunia dalam mendorong mutu kesejahteraan sosial, pengurangan kemiskinan, dan pemajuan pemikiran rasional-modern.

Sebagai seorang “sosialis” ide tentang kemiskinan dan demografi menjadi perhatian utama. Namun gagasannya tidak diartikulasikan secara provokatif. Jika mau ditarik sudut tikar penyama, ia lebih terlihat sebagai seorang Weberian dibandingkan Gramscian. Meskipun di dalam tulisannya ia banyak menyoroti masalah kemiskinan dan kelaparan, Bung Koko tidak mencari musuh dalam struktur negara sebagai pelaku tertuduh. Kritik yang dilakukan memang menggunakan analisis neo-Marxisme, meskipun tidak menggunakan bahasa analisis struktural dan parokialisme yang kental. Hal ini dipengaruhi posisinya yang berbolak-balik antara sebagai “orang di luar” dan “dalam” di pemerintahan. Sisinya sebagai diplomat lebih mengental dibandingkan sebagai kritikus “seberang jalan”.

 

Sosiolog agama

Demikian pula dalam pemikiran keagamaan. Meskipun disebutkan ada 13 persen dari tulisannya berhubungan dengan agama, ia tidak membahasnya dalam konstruksi esoteris dan transedental, tapi lebih sebagai kritik sosiologis. Dalam artikel yang berjudul “How religion can help?" yang dimuat di Asianweek (Januari 1977) ia memulai pengambarannya tentang dunia yang tidak stabil, dipenuhi residu oleh perang Vietnam, ketegangan hubungan AS dan Uni Soviet, keterbelahan Korea dan China, dan ancaman perang dunia ketiga.

Dalam tulisan ini Soedjatmoko melihat peran agama (di Asia) yang tidak cukup responsif dalam melihat masalah krisis sosial dan global yang sedang terjadi. Agama belum belum menganggap penting merespons isu-isu keamanan internasional dan masih berkutat pada isu esoterik. Pandangan jelas memiliki sisi yang bersebelahan dengan apa yang dikembangkan oleh Hans Kung, teolog Swiss, yang mulai populer saat itu.

Jika Soedjatmoko melihat inferioritas agama ketika berhadapan dengan krisis keamanan dunia, Kung melihat krisis dan konflik di dunia terjadi karena belum adanya perdamaian di dalam agama-agama dan belum terwujudnya dialog di antara agama-agama tersebut. Kung melihat fungsi teologis agama yang sentral dalam perdamaian, sedangkan Soedjatmoko masih pesimis agama bisa merespons problem krisis global saat itu.

Di dalam tulisan Javanese Mysticim (1980), Soedjatmoko melihat realitas sinkretisme Jawa dalam pengaruh Hindu-Budha. Pandangan ini berbeda dengan penelitian antropologi, termasuk tesis Clifford Geertz, 20 tahun sebelumnya, bahwa realitas “agama Jawa” tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam. Soedjatmoko mereduksi realitas kejawen sebagai relasi personal antara hamba dan Tuhan melalui percakapan batin (cor ad cor loquitur). Berbeda secara arus utama seperti pemikiran antropolog seperti Geertz yang melihat agama berfungsi bukan hanya pengaturan aspek kebatinan, tapi pembentuk harmoni sosial sebagai penanda masyarakat beragama. Bisa jadi Soedjatmoko sedang menjadikan dirinya sebagai cermin pandangan Barat yang gagal paham tentang mistitisme Jawa sehingga turut salah dalam mendesain pembangunan masyarakat di pulau Jawa melalui skema bantuan utang.

Dalam tulisannya “Religious Perceptions of Desirable Societies : Islamic Perspectives Responses” (12 Maret 1984) yang disampaikannya di Bangkok sebagai rektor PBB, Soedjatmoko menegaskan dirinya sebagai seorang muslim. Hampir tidak pernah ia membuat pendakuan seperti itu. Ia membuat statemen awal bahwa dunia Islam sedang berlangsung perkembangan besar termasuk dalam gerakan pembaruan pemikiran. Namun, ia tetap melihat agama masih sulit mengakomodasi perubahan sosial.

Lagi-lagi di sini Soedjatmoko tidak lama merepresentasikan diri sebagai pemikir Islam. Alih-alih menjadi seorang muslim yang menjelaskan agamanya secara emik, ia dengan cepat beralih sebagai seorang pemikir yang mengkritik peran (semua) agama secara deduktif.

Responsnya masih sama, ada tuntutan agama harus punya peran dalam penghapusan kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan problem kecemasan sosial lainnya. Ia melihat masih ada celah dalam perkembangan peradaban Islam, kalau iman mau dikoneksikan dengan pemikiran rasional. Solusinya: iman, tauhid, syariah, dan sufisme harus mampu membuat pelibatan pada masalah kemanusiaan, baik secara kolektif atau individual.

Memang dalam pembacaan konteks ini, Soedjatmoko tidak bisa dianggap sebagai “pemikir keagamaan”, seperti Harun Nasution, Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, atau Ahmad Wahib. Namun, hasratnya yang kuat agar agama harus mengambil peran dalam perdamaian, pengentasan kemiskinan, dan perubahan sosial layak dikontekstualisasikan.

Terakhir, kritiknya tentang sosiologi agama masih relevan ketika melihat peran agama pada agenda perubahan sosial-politik di Indonesia. Apalagi sekarang, ketika agama kerap dipaksanakan masuk dalam gelanggang politik identitas dan “ideologi jamur” yang membahayakan kebinekaan Indonesia.

Teuku Kemal Fasya, Kepala UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan Universitas Malikussaleh. Aktivis Jaringan Antariman Indonesia (JAII).

Dimuat pertama kali di Kompas.id, 31 Oktober 2022.


Berita Lainnya

Kirim Komentar