Bahaya TBC dan Pencegahannya

SHARE:  

Humas Unimal
Lambang Rizki Perwira Awaludin, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

UNIMALNEWS Lambang Rizki Perwira Awaludin, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Tuberkulosis (TB) atau orang awam menyebutnya TBC adalah penyakit menular dengan insiden tertinggi didunia yang menyebabkan 1,5 juta orang meninggal karena TBC pada tahun 2018 (termasuk 251.000 orang dengan HIV). Di seluruh dunia TBC menduduki 10 penyebab utama kematian dan penyebab utama dari satu agen infeksius (di atas penularan HIV / AIDS).

Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) melaporkan Indonesia menduduki posisi ketiga dengan kasus Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. Sementara posisi pertama dan kedua saat ini adalah India dan Tiongkok. Jika melihat data WHO tahun 2019 menyebutkan, jumlah estimasi kasus TBC di Indonesia sebanyak 845.000 orang. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya sebanyak 843.000 orang. Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang 60% dari seluruh kasus TBC dunia.

Pada tahun 2018 ditemukan jumlah kasus TBC sebanyak 8471 kasus di Provinsi Aceh dengan jumlah kasus tertinggi terdapat di Kabupaten Aceh Utara sebesar 15% dan jumlah terendah berada di Kabupaten Bener Meriah sebesar 0,3%.

TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, bakteri ini sebagian besar menyerang organ paru-paru, namun dapat juga menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening (KGB), tulang, selaput otak (meningens), ginjal, saluran kencing dan peritoneum.

Dalam buku Indonesian Doctor’s Compendium (idC) TBC memiliki bakteri yang bersifat tahan terhadap asam, sehingga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Bakteri ini juga tahan terhadap suhu rendah dan sangat peka terhadap panas, sinar ultraviolet dan sinar matahari. TBC dapat ditularkan melalui percikan dahak yang disebut droplet nuclei/ percik renik (percik halus) yang dikeluarkan oleh seseorang (pasien) yang terinfeksi TBC baik saat batuk, bersin, atau berbicara.

Faktor apa saja yang menyebabkan seseorang tertular TBC?

Faktor resiko yang dapat menyebabkan seseorang tertular TBC antara lain faktor lingkungan (lingkungan padat penduduk, rumah dengan pencahayaan dan ventilasi yang kurang memadai, tinggal di daerah endemik TBC), faktor pejamu (seseorang dengan daya tahan tubuh yang rendah seperti pasien HIV / AIDS, DM/kencing manis, penyakit ginjal atau hati kronik dan malnutrisi, merokok serta riwayat kontak dengan pasein TBC baik dalam jangka waktu dekat ataupun lama), faktor agen dan usia (semua usia dengan prevalensi terbanyak pada usia produktif).

Gejala

Gejala utama TBC yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk awalnya bersifat produktif (batuk kering) yang selanjutnya batuk akan jadi produktif (batuk berdahak), diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat pada malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Pada pasien dengan HIV positif gelaja batuk sering kali bukan merupakan gejala TBC yang khas, sehingga gejala batuk tidak harus selama 2 minggu atau lebih.

Bahayakah TBC itu?

TBC biasanya menyerang organ paru-paru, namun jika sudah mulai menyerang organ lain maka akan menyebabkan banyak gejala yang dapat membahayakan kesehatan seseorang. Istilah untuk TBC yang menyerang organ selain paru disebut TB Ekstra Paru.

TBC Ekstra Paru memiliki gejala yang bermacam dan tidak sama antara  orang satu dengan orang lainnya, hal ini di karenakan gejala tersebut tergantung dari organ yang terlibat, diantaranya (1) Limfadenitis TB adalah TBC yang menyerang kelenjar getah bening dan menyebabkan peradangan, gejalanya dapat berupa pembesaran pada kelenjar getah bening secara lambat dan tanpa nyeri. (2) Meningitis TB adalah TB ekstra paru yang paling berbahaya karena menyerang pada selaput pembungkus otak dan sumsum tulang, gejalanya dapat berupa sakit kepala, kaku kuduk, demam dan kejang. (3)Pleuritis TB adalah peradangan yang disebabkan oleh bakteri TB yang menyerang selaput pembungkus organ paru (pleura) sehingga terjadi peradangan pada bagian pleura, gejalanya dapat berupa gejala nyeri dada dan sesak napas. (4) Spondilitis TB adalah infeksi pada tulang belakang yang disebabkan oleh bakteri TB sehingga terjadi peradangan pada bagian tulang belakang, gejalanya berupa nyeri punggung. (5) Peritonitis TB adalah peradangan pada lapisan dalam rongga perut (peritoneum) yang disebabkan oleh infeksi bakteri TB, gejalanya berupa nyeri perut.

Pencegahan dan Tatalaksana

Beberapa pencegahan agar seseorang tidak tertular TBC diantaranya pencegahan secara primer, skrining dan sekunder.

  • Pencegahan secara primer dapat berupa pemberian vaksin BCG pada bayi baru lahir, anak dibawah 5 tahun. Biasanya setelah pemberian vaksin BCG akan timbul bisul atau luka bernanah pada kulit, setelah beberapa waktu bisul akan mengering dan menimbulkan jaringan parut/bekas luka.
  • Pencegahan dengan melakukan skrining (Active Case Finding) pada orang-orang dengan resiko tinggi seperti HIV, pengguna narkoba suntik dan kontak dengan orang yang berstatus TBC aktif
  • Pencegahan sekunder dapat berupa hindari kontak langsung dengan orang yang mendapat pengobatan TBC, menutup hidung dan mulut saat bersin/ batuk dengan sapu tangan/tisu/ masker, pengawasan langsung setiap minum obat hingga selesai pada orang dengan TBC.

Tatalaksana non- medikamentosa yang dapat diberikan pada pasien TBC antara lain:

  • Pemberian makan-makanan bergizi, tinggi kalori-tinggi protein, vitamin tambahan.
  • Komposisi makronutrien yang dibutuhkan seperti energy dari protein (15-30%), lemak (25-35%) dan karbohidrat (45-65%).
  • Mikronutrien yang penting dan dibutuhkan dalam tatalaksana pasien TBC antara lain vitamin A, C, E, B6 dan D, asam folat dan mineral seperti: zinc, selenium dan kalsium.
  • Membuka jendela dan membuat setiap ruangan memiliki ventilasi yang bagus agar ruangan tidak lembab.

Pengobatan untuk seseorang yang sudah terkena TBC dapat di berikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama 6 bulan yang didalamnya mengandung minimal 4 macam obat untuk dewasa dan tiga macam untuk anak-anak. Dalam proses pengobatannya OAT harus ditelan secara teratur dan diawasi oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).

PMO sendiri dapat berasal dari petugas kesehatan, kader kesehatan, guru, tokoh masyarakat, tetangga dan anggota keluarga. PMO ada karena lamanya konsumsi OAT akan menyebabkan seseorang yang sudah terkena TBC merasa bosan dan malas untuk mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Ketika seorang pasien merasa sudah sehat namun konsumsi OAT nya belum tuntas (belum 6 bulan) biasanya seseorang yang mengidap TBC akan berhenti mengkonsumsi obat. Jika pengobatan tidak dilanjutkan sampai 6 bulan hal ini nantinya akan menimbulkan masalah yang amat serius yaitu terjadinya resisten OAT yang berujung pada susahnya pengobatan pada pasien TBC untuk sembuh dari penyakitnya atau disebut dengan MDR TBC (Multi Drug Resistant Tuberculosis).

Orang-orang yang mempunyai resiko terkena TBC resisten obat (MDR TBC)

Beberapa orang-orang yang memiliki resiko tinggi terkena TBC resisten obat (MDR TBC) diantaranya:

  • Tidak menelan OAT secara teratur.
  • Sakit TBC berulang serta memiliki riwayat mendapatkan pengobatan TBC sebelumnya.
  • Datang dari wilayah yang memiliki beban TBC resisten obat yang tinggi.
  • Kontak erat dengan seseorang yang sakit TBC resisten obat (MDR TBC)

Lambang Rizki Perwira Awaludin adalah Universitas Malikussaleh yang sedang mengikuti KKN di bawah bimbingan Muhammad Authar MP

Tulisan ini telah dipublikasi pertama sekali di Harian Rakyat Aceh, 13 Mei 2020.


Kirim Komentar