Fitriani, Mengarungi Kerasnya Hidup

SHARE:  

Humas Unimal
Fitriani, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh. Foto : Bustami Ibrahim.

Mae West, artis Amerika Serikat pernah berkata, “Kamu hanya hidup sekali. Namun jika kamu hidup sekali dengan benar, maka sekali itu pun cukup.” Kisah hidup yang sekali dari setiap orang adalah unik dan tidak pernah sama, dan dari sana kita belajar.

Salah satu kisah hidup yang kompleks itu ada pada jiwa Fitriani, mahasiswa Fakultas Hukum Unimal angkatan 2018. Gadis kelahiran Belawan, 22 April 2000 ini memiliki kisah hidup yang layak diketahui untuk orang yang ingin berjuang untuk maju.

Ia dikenal oleh unimalnews setelah menjadi salah seorang peserta Napak Tilas Kemerdekaan R.I ke-75 yang dilaksanakan Universitas Malikussaleh di Museum Cut Mutia, 17 Agustus 2020 lalu. Fitri ikut mendaftar sebagai peserta Gerak Jalan 45 dari kalangan mahasiswa. Ia berjuang untuk bisa ikut kegiatan ini setelah mengikuti try out untuk melakukan gerak jalan sejauh 15 km, dari Simpang Cibrek ke Museum Cut Mutia, Gampong Masjid Pirak, Matangkuli, Aceh Utara.

Mahasiswi yang juga atlet Taekwondo ini juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Disamping UKM Taekwondo Unimal, ia juga berkhidmat di organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa). Ia sebenarnya ingin ikut di banyak kegiatan kemahasiswaan, tapi dilarang oleh kakaknya yang juga lulusan Unimal dengan nilai Cum Laude. Katanya terlalu banyak kegiatan mahasiswa takut akan menyebabkan kuliahnya terganggu. Seperti juga kakaknya, Fitri juga mahasiswa berprestasi dengan beasiswa Bidikmisi – kini dikenal dengan istilah KIP-Kuliah.

Namun dibalik ceria wajahnya, Fitri, juga memiliki endapan sejarah yang penuh linu dan luka. Ia berasal dari keluarga yang tidak utuh. Ayahnya asli Pidie dengan ibu berasal dari Tanoh Gayo memiliki kisah yang akhirnya ikut membentuk karakternya dalam bertahan hidup dan berprestasi. Sang ayah bertemu dengan ibunya ketika mereka bekerja di Lhokseumawe. Namun karena konflik sedang menderu-deru dan ayahnya sempat dituduh sebagai kombatan, mereka akhirnya pindah ke Medan dan bekerja di Belawan. Dengan usaha yang gigih mereka bisa memiliki rumah.

Namun kisah indah tiga kakak-beradik itu cepat pupus. Sang ayah terpengaruh “aura Medan” sehingga menyebabkan apa yang telah berhasil mereka kumpulkan dengan cepat kandas. Semua habis terjual karena urusan “di luar janji pernikahan”. Sehingga akhirnya mereka kembali ke keluarga sang ibu di Terang Ulen, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah.

Di tengah kesulitan itu akhirnya mereka terus berjuang untuk bertahan hidup. Seketip demi seketip, sedepa demi sedepa, akhirnya mereka berhasil memiliki rumah sendiri, tentu tipe sederhana.

Fitri sendiri berasal dari keluarga yang tidak ikut mendukung pendidikan tinggi. Sebagai “janda hidup” dengan ekonomi yang terbatas, ibunya menganggap kuliah hanya seperti pungguk merindukan bulan. Namun karena tekadnya yang kuat, seperti juga kakaknya, ia berhasil menempuh pendidikan tinggi di kampus pusaka rakyat Pase.

Ia juga merasa bahwa dunia kuliah menyenangkan. Kampus Unimal berbeda dengan kampus-kampus lain seperti dilihatnya di USU dan Unimed di Medan. Namun ia menganggap Unimal memiliki keunikan yang membanggakan. “Saya tertawa ketika melihat ada banyak monyet di Bukit Indah. Kesannya, kampus ini berdiri di tengah hutan, keren”.

Selamat buat Fitri yang terus bertahan dengan hidup. Tentu hidup dengan jalan yang benar dan lurus. [Teuku Kemal Fasya]


Komentar

  • Avatar
    Siti syarah 27 Agustus 2020
    Kita sama2 dari golongan yang dibilang sederhana, tapi dari kesederhanaan itu kita bisa menjadi intan pertama yg bisa memiliki segudang ilmu, belajar menghargai setiap jerih payah orang tua demi membahagiakan mereka, Semangat buat KK Fitri, engkau sang motivator yang membuat jiwa bergema dalam langkah titik kehidupan pendidikan

Kirim Komentar